Sunday, August 26, 2018

PANGERAN ACA DI HUTAN HIJAU



Namanya Aca. Seorang pangeran dari Negeri Atharva. Pangeran kecil berusia 9 tahun itu sedang bermain di taman istana ketika seekor anjing yang entah datang dari mana, berlarian di rerumputan halaman istana. Anjing itu berbulu lebat berwarna putih bersih.  Dia seperti kebingungan.
“Halo anjing kecil” Sapa Aca sambil menghampirinya.
Anjing itu terdiam ketika Aca mendekatinya. Matanya menatap pangeran kecil itu. Tapi wuush..., anjing itu tiba-tiba menghilang!

Malamnya, Aca bermimpi. Dia bermain dengan seekor anjing kecil. Mirip sekali dengan yang dijumpainya di taman pagi ini.
“ Hei, bukannya kamu yang tadi pagi datang ke taman istana” Tanyanya.
Anjing itu menggonggong pelan lalu berlari ke arahnya.
Rasanya, dia mengenal anjing itu selama hidupnya.
Rasanya, dia menyayangi anjing itu
Rasanya.....
Kemudian dia terbangun.

“Lulu, pernahkah kamu bermimpi?” Tanya Aca pada Lulu, pengasuhnya pagi harinya.
“Tentu saja pernah Pangeran Aca” Jawabnya ringan.
“Bukankah sudah aku bilang, jangan memanggilku pangeran”
“Karena pangeran tetaplah seorang pangeran” senyumnya.
Lulu adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang ramah, baik hati, dan selalu ceria. Dia tinggal di istana sejak berumur lima tahun. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan, kemudian Lulu  diajak ke istana oleh pamannya yang bekerja di istana dan sekarang menjadi pengasuh pangeran Aca.
“Apa saja mimpimu?” Aca masih saja bertanya pada Lulu yang sibuk menyiapkan sarapan untuknya.
“Aku sering bermimpi makan eskrim cokelat yang lezat, makan roti isi dengan cincangan daging sapi yang lezat sekali, atau sesekali aku bermimpi minum susu yang banyak sekali sampai perutku sakit hahaha” Lulu tertawa keras.
Tapi Aca tidak ikut tertawa.
“Ada yang mengganggu pikiranmu Pangeran?”
“Semalam aku bermimpi aneh. Aku bertemu dengan seekor anjing kecil. Dia bermain denganku. Dia berlari ke pelukanku. Rasanya aku sudah mengenalnya lama sekali”
“Anjing? Di istana ini tidak ada anjing. Di Hutan Hijau juga tidak ada anjing kan?”
Aca menggeleng.
Lulu terdiam. Dia menatap wajah Pangeran kecilnya. Ada kesedihan di matanya.
“Lulu, apa kamu pernah meridukan orang tuamu?” Tanya Aca lagi.
“Tentu saja. Aku merindukan mereka setiap saat”  Jawabnya.
Lulu menghentikan pekerjaannya. Kemudian bertanya pelan.
“Apa kamu merindukan ibumu?”
“Tidak..buat apa aku merindukannya? Orang yang sudah meninggalkan aku dan ayah”
Tapi ada sesuatu, sesuatu yang tidak diceritakannya kepada siapapun.
Tentang Ibunya. Semua orang berkata Ibunya orang jahat. Seorang penyihir yang  dihukum kakeknya untuk diasingkan di negeri yang jauh sekali dari istana.
Aca memang merindukannya.
Meskipun, wajah ibunya pun dia tidak ingat sama sekali.
“Baiklah, Pangeran tampan. Karena Baginda Raja sedang pergi hari ini, bagaimana kalau kita bermain di hutan saja” kata-kata Lulu menghentikan lamunannya.
“Hutan Hijau?”
Lulu mengangguk
“Nanti aku akan minta Peter menemanimu di hutan. Tapi hanya sampai makan siang ya? Pangeran harus belajar”.

Hutan Hijau adalah sebuah hutan kecil di pinggir istana. Orang-orang menyebutnya Hutan Hijau karena memiliki banyak pepohonan besar berwarna hijau cantik dengan aneka hewan yang jinak.
Aca selalu senang bermain di hutan. Baginya, berada di antara pepohonan sungguh menyenangkan. Selain menjadi tempatnya belajar memanah, hutan adalah tempat bermainnya. Aca punya banyak teman hewan di hutan itu. Semuanya diberi nama. Kiki si Tupai, Biti si Beruang kecil, Riri si rubah.

Membawa bekal makanan yang sudah disiapkan Lulu serta buku bacaan dari perpustakaan istana, Aca menaiki rumah pohon yang dibuatnya bersama Peter. Peter sendiri sedang mencari sayur dan buah-buahan di sekitar hutan.

Ternyata, teman-temannya sudah menunggunya di sana.
“Halo Kiki, Biti, Riri” Serunya riang.
Dan hewan-hewan itu langsung mengerubunginya. Aca tertawa. Kemudian, dia pun menghabiskan waktu bersama mereka. Makan bekal yang dibawakan Lulu, berkejaran di sela pepohonan, bergulingan di tanah. Menyenangkan.
“Aku naik ke atas ya. Aku lelah” Katanya.
Aca meraih sebuah buku dan menaiki rumah pohonnya. Kiki dan Riri memanjat ke atas juga dengan cekatan.
Tak lama Aca membaca buku sambil berbaring lalu mulai mengantuk.
Dan tiba-tiba....
Anjing itu datang lagi. Entah dari mana dia datang. Anjing yang sama. Persis seperti di mimpinya. Anjing yang kemarin datang di taman istana.
“Kamu siapa?”
Anjing itu menatapnya.
Mata itu.
Dan Aca seperti tersihir.
“Ibu....”



Bersambung...


No comments:

Post a Comment

Share