Wednesday, October 21, 2020

BIANGLALA CINTA ARI DAN TANTI

 


Pernahkah  kau  jatuh cinta dengan seseorang, yang meskipun dia juga mencintaimu, tapi kalian tetap tidak bisa bersama karena suatu hal? Mungkin cerita tentang Tanti dan Ari adalah salah satu contohnya.

Dandangan. Ketika bagi banyak orang, tradisi dandangan di Kudus adalah sebuah hiburan yang menyenangkan, tapi berbeda bagi Tanti. Dandangan adalah sebuah kenangan yang membuatnya jatuh hati sekaligus patah hati dengan sedalam-dalamnya.

Tanti dan Ari bertemu pertama kali di sebuah pasar malam, salah satu hal yang selalu ada di acara Dandangan. Dandangan ini adalah tradisi turun temurun kota Kudus menjelang bulan Ramadan. Selain acara keagamaan  yang diselenggarakan di Menara Kudus, masjid bersejarah di komplek makam Sunan Kudus, Dandangan diramaikan oleh ratusan pedagang kecil yang berjajar di sepanjang  jalan Sunan Kudus.

Saat itu, Ari bekerja sebagai penjaga karcis masuk wahana bianglala. Wahana putar yang disukai anak-anak dan orang dewasa karena saat di atas, kita bisa melihat seisi kota dari ketinggian. Suatu malam Tanti mengunjungi pasar malam  mengantar keponakannya yang ingin naik wahana tersebut. Pertemuan pertama yang membuat mereka langsung jatuh cinta. Disusul pertemuan-pertemuan mereka berikutnya  yang  hanya sebentar.

Dan ketika sampai di tahun kedua mereka bertemu, dia melihat sosok Ari yang semakin membuatnya terpesona. Tubuhnya lebih kekar, kulitnya lebih gelap dari terakhir dia melihatnya., tapi untungnya, dia tetap Ari yang sama yang membuatnya jatuh cinta.

Tahun ketiga. Tanti sudah tak sabar bertemu Ari sejak berminggu-minggu menjelang rombongan itu datang ke kotanya. Kali ini memang berbeda, Bukan hanya mereka bisa bertemu seperti biasa, tapi mungkin saja Ari akan menikahinya.

“Ari, kamu sudah  memikirkan tentang pernikahan?” tanya Tanti tidak sabar.

Tanti memandang Ari dengan  tatapan yang tidak bisa Ari lupakan sepanjang hidupnya. Tatapan penuh harap.

Ari menghela napas panjang.

“Baiklah, Tanti. Aku akan menikahimu.” katanya pelan.

Merekapun menikah dengan sederhana. Setelah menikah, apa mereka benar-benar bahagia seperti yang dikatakan Tanti pada Ari kala itu? Bagi Tanti mungkin iya. Kini, ada Ari yang selalu di sampingya.

Bagaimana dengan Ari? Ari terbiasa bekerja keras hingga dini hari. Ari terbiasa berkeliling kota-kota lain di sepanjang  hidupnya, Ari terbiasa hidup di jalanan sehingga segala kenyamanan dan ketenangan hidupnya bersama Tanti membuatnya tersiksa. Ari ternyata tidak bahagia. Dan sebenarnya Tanti tahu itu. Tanti hanya tidak mau menenerima kenyataan. Dia selalu menyangkal setiap pikiran tentang ketidakbahagiaan Ari menghampirinya.

Tanti sering melihat Ari termenung dengan  tatapan kosong berjam-jam lamanya. Tanti sering mendapati Ari tidak mendengarnya setiap dia ajak bicara. Ari semakin lama semakin dingin terhadapnya. Ari memang orang baik. Dia masih seorang suami yang baik untuk Tanti, memperlakukannya dengan baik, membantunya setiap dia memintanya, tapi Ari seakan semakin menjauh dari Tanti setiap harinya.

Tibalah  saat  itu tiba. Pasar  malam  itu datang lagi dengan segala keriuhannya. Gemerlap lampu warna-warni yang kelihatan dari kejauhan, suara musik yang terdengar sepanjang malam, aroma arum manis yang bercampr dengan wangi donat yang baru diangkat dari penggorengan, orang-orang yang dating dan pergi sambil tertawa.  Apakah Ari ke sana juga? Tidak. Dia bahkan  tidak beranjak saat Tanti mengajaknya ke sana untuk sekedar menyapa teman-temannya. Tanti tertegun. Ada apa dengan Ari?

Sampai seminggu kemudian, dia tahu Ari belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di lapangan tempat pasar malam berada. Ari sepanjang hari hanya diam, dan di malam haripun selalu masuk kamar untuk tidur cepat. Hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan.

Sampai suatu saat, sekitar pukul satu  dini hari, Tanti terbangun dan mendapati Ari tidak ada di sampingnya. Tanti seketika tahu di mana Ari berada. Bergegas dia keluar ke  lapangan pasar malam.

Tanti melihat Ari di sana. Di wahana bianglala. Tempat mereka  pertama kali mereka bertemu. Ari sedang  mengusap besi  pagar pembatas wahana. Jari-jarinya menjelajahi setiap jengkal kayu dan besi usang  di bianglala, memunguti sampah plastik bungkus  makanan dan es yang dibuang begitu saja oleh para pengunjung. Kepalanya mendongak. Ari menatap bagian  teratas kursi bianglala sambil tersenyum. Wajahnya bersinar seperti seseorang  yang baru bertemu dengan kekasihnya setelah sekian lama.

Detik itulah Tanti mengerti semuanya. Belum pernah ia melihat Ari sedemikian bahagia seperti itu sejak mereka menikah. Di sinilah tempat Ari yang seharusnya. Tempat yang membuatnya bahagia.

“Ari..pergilah bersama rombongan  pasar malam setelah ini!” ucapnya pelan setelah  pagi harinya Ari membantunya membuka toko.

“Apa maksudmu?” tanya Ari tidak mengerti.

“Pergilah Ri. Aku tahu kamu tidak bahagia di sini. Lebih baik kamu kembali ke rombongan pasar malam. Tempatmu yang seharusnya. Tempat kamu bisa bahagia dan menjadi dirimu sendiri. Maafkan aku yang selama ini telah  memaksamu tinggal tanpa pernah peduli apa yang sebenarnya kamu inginkan.” kata Tanti sambil terisak

“Tanti, kamu serius?” Ari masih tidak percaya.

Tanti mengangguk.

Ari menatapnya tidak percaya. Benarkah Tanti merelakannya pergi? Inilah yang sebenarnya dia inginkan selama ini. Dia hanya tidak ingin menyakiti Tanti. Wanita yang dicintainya.

Tanti akhirnya melihat Ari  melangkah  ke lapangan pasar malam. Meninggalkan Tanti yang hatinya telah  patah.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day45

Tuesday, October 20, 2020

PENGASAPAN IKAN RUMAHAN, SEBUAH SIMPUL KEBAIKAN

 


Pernah mendengar atau pernah mencicipi  sebuah masakan yang bernama Mangut? Mangut adalah masakan berkuah santan yang kaya bumbu rempah. Biasanya mangut ini bercita rasa gurih, sedikit asam dan pedas. Mangut biasa menggunakan ikan asap (biasanya ikan pari asap dan ikan manyung asap). Mangut banyak dijumpai di daerah pesisir pantai yang banyak ditemukan dua jenis ikan tersebut.

Kali ini aku tidak akan membahas tentang masakan mangutnya atau resep membuat mangut. Aku tidak bisa masak mangut  hahaha…Dan juga bukan termasuk jenis makanan yang kusukai, jadi aku akan menulis cerita tentang ikan asapnya saja.

Kebetulan pekerjaanku minggu kemarin membuatku harus berkeliling ke sebuah desa sentra produksi ikan asap, bahan utama yang dijadikan masakan mangut. Nama desanya adalah Mustokoharjo. Sebuah desa di Kecamatan Pati Kabupaten Pati. Di sana terdapat sentra industri rumah tangga pengasapan ikan yaitu di wilayah RT 3 dan Rt 4 Rw 1 Dukuh Ngantru.

Memasuki wilayah RT tersebut, kita akan disambut dengan aroma ikan laut yang pekat dan bau asap yang cukup menyengat. Apalagi di jam-jam dimulainya proses produksi ikan asap yaitu pukul 9 pagi dan pukul 2 siang. Ada sekitar belasan warga yang memiliki usaha rumahan pengasapan ikan.

Mereka melakukan pengasapan ikan di rumah masing-masing dengan dibantu beberapa orang karyawan yang juga warga sekitar.  Tidak ada tempat atau gudang khusus untuk proses pengasapan. Bisa di samping rumah, atau di lahan milik sendiri yang dibuat tempat produksi sederhana. Seperti usaha pengasapan ikan yang dimiliki oleh Pak Rohadi warga Rt 4/1 ini misalnya.

ikan segar yang sudah dipotong-potong
 

Sejak jam 9 pagi, di samping rumahnya sudah terlihat ramai  dengan 5 orang karyawan yang bergelut dengan daging ikan Pari. Pagi itu mereka sedang membuat ikan asap dari ikan Pari. Ikan lain baru akan datang siang harinya, jadi dari pagi mereka baru mengolah ikan Pari saja.

Sejak didatangkan dari sebuah Tempat Pelelangan Ikan di Juwana dan Rembang, ikan-ikan itu langsung dibersihkan. Ikan yang tidak dibersihkan dengan benar akan meninggalkan bau amis pesing yang akan membuat kualitas ikan asapnya menurun. Setelah dibersihkan, ikan-ikan pari akan dipotong sesuai ukuran ikan asap pada umunya. Ikan yang sudah dipotong dicuci ulang dan diberi tusukan bambu dan siap diasap.

ikan pari yang siap diasap
 

Proses pengasapan ini tidak membutuhkan waktu lama. Hanya sekitar sepuluh menit saja, dan jejeran ikan asap siap untuk menunggu giliran packing dan dipasarkan. Pengasapan ikan ini masih menggunakan tungku sederhana dan mengandalkan api yang bersumber dari bahan bakar tongkol jagung. Belum menggunakan alat-alat canggih, tapi justru itulah yang membuat aroma ikan asap menjadi khas. 

satu keranjang berisi 150 biji ikan asap
 

Harga jual per biji ikan asap dari ikan Pari adalah tiga ribu rupiah. Kalau untuk ikan hiu atau ikan besar lain, harganya bervariasi mulai dari 2.500 rupiah per biji. Biasanya Pak Rohadi menjual ikan asapnya dalam bentuk keranjangan. Satu keranjang berisi 150 biji ikan asap.

Setiap harinya, omzet penjualan ikan asap Pak Rohadi bisa mencapai 7 juta rupiah. Ikan asap produksinya sudah mempunyai pelanggan tetap yang membeli ke rumahnya setiap hari. Biasanya, pelanggan setianya akan menjual ikan asap gtersebut ke pasar-pasar di wilayah kota Pati dan sekitarnya. Ada juga yang disetorkan langsung ke rumah makan yang menu utamanya adalah Mangut.

para karyawan yang merupakan warga sekitar
 

Satu hal baik yang kulihat waktu mengunjungi tempat produksi pengasapan ikan di desa Mustokoharjo minggu lalu adalah, adanya saling peduli dan menjaga di antara para warganya. Beberapa pekerja di beberapa lokasi pengasapan ikan, adalah penyandang disabilitas. Mereka diberi kesempatan untuk ikut bekerja dan diberi upah yang layak seperti yang lain. Beberapa wanita yang kujumpai dan kuajak ngobrol juga merasa terbantu dengan adanya industri rumahan seperti ini. Ada penghasilan yang didapat tanpa harus bekerja di tempat yang jauh dan meninggalkan keluarga. Semoga kebaikan-kebaikan seperti ini bertahan terus ya..

 


#OneDayOnePost

#ODOP

#Day44

Monday, October 19, 2020

NASI BUNGKUS UNTUK YANG DI RUMAH

 


Sore ini, aku dan para relawan Yatim Mandiri, melaksanakan program baru kami yaitu kedai sedekah. Kami menyediakan makan dan minum gratis untuk dhuafa dan orang-orang yang membutuhkan. Untuk makanan, sengaja kami membeli makanan di warung makan kecil di sekitar lokasi tempat kami membuka kedai (ini juga kami pilih warung yang tidak ramai pembeli biar lebih laris).

Kami membuka kedai lesehan di pinggir jalan. Selepas ashar kami mulai menggelar tikar dan menyiapkan meja untuk menata nasi, sayur, dan lauk-pauknya. Awalnya memang tidak banyak orang yang bersedia mampir, hingga kami harus membujuk orang-orang yang lewat agar bersedia mampir dan makan di kedai.

Sasaran kami adalah tukang becak, tukang parkir, petugas kebersihan yang banyak bekerja di sekitar jalan tempat kami menggelar kedai. Ada juga para pekerja ojek online dan penjual kaki lima yang kebetulan lewat.

Rencananya, kami hanya melayani untuk yang bersedia makan di tempat. Kami khawatir makanannya tidak cukup jika menyediakan nasi bungkus juga untuk dibawa pulang. Tapi kemudian, dari cerita-cerita pengunjung tentang keinginan mereka untuk membagi nasi buat yang di rumah, membuat kami bebaskan pengunjung membungkus makanan. Berapapun.  

Di awal buka, karena masih sepi, aku memang suka mengajak pengunjung untuk ngobrol dan bercerita. Sambil duduk di sebelah mereka, melayani mereka dan menanyakan apakah ada yang kurang, aku bertanya tentang rumahnya, pekerjaannya, dan keadan keluarganya.

Seperti cerita seseorang nenek yang malu meminta satu bungkus nasi untuk dibawa pulang. Beliau takut meminta nasi untuk dibungkus, jadi meminta agar satu piring nasi yang beliau makan itu boleh dibawanya pulang. Katanya untuk suaminya di rumah. Biar suaminya bisa makan enak juga seperti dirinya. Aku terharu…

Ada lagi cerita seorang kakek yang melewati depan kedai kami. Beliau tidak mau diambilkan makanan yang banyak meskipun mengaku belum makan seharian. “Biar yang lain kebagian makanan juga. Untukku sedikit saja.”

Atau cerita tentang anak-anak yang juga mengunjungi kedai kami sore tadi. Mereka tidak mau makan di tempat. Memaksa kami agar dibolehkan membungkus nasi untuk dibawa pulang. Kata mereka untuk dimakan bersama-sama orang tuanya di rumah.

Sungguh berbagi sore ini membuatku belajar banyak hal. Salah satunya tentang memikirkan orang lain saat sedang menerima nikmat. Kita (terutama aku) sering lupa sama orang lain saat sedang bahagia, saat sedang menerima sesuatu,sedang diberikan Allah kelapangan rezeki, padahal ada hak orang lain di sana.

Mereka ini, yang kata orang-orang “kurang beruntung” ternyata malah jauh lebih beruntung karena diberi Allah hati yang lapang dan peduli kepada orang lain. Yang selalu memikirkan orang lain. Yang sebenarnya enggan meminta lebih dibanding dengan apa yang mereka butuhkan untuk dirinya sendiri. Terima kasih ya Allah untuk sore yang luar biasa dan banyak pelajaran. 

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day43

Sunday, October 18, 2020

EMPAT CARA MENGISI AKHIR PEKAN UNTUK SENIN YANG LEBIH SEMANGAT

 


Bagaimana akhir pekannya teman-teman? Semoga akhir pekannya menyenangkan dan siap untuk menghadapi minggu yang baru besok ya?

Nah, agar siap menghadapi hari-hari yang sibuk lagi besok, aku selalu memperlakukan akhir pekan dengan lebih istimewa agar seninku semangat. Caranya dengan istirahat  lebih lama dan tidak melakukan kegiatan yang terlalu menguras tenaga. Tapi pastikan untuk tidak rebahan sepanjang hari. Rebahan sepanjang hari malah akan membuat lemas dan tidak bersemangat. Akhir pekan bisa dimanfaatkan untuk sebanyak mungkin meluangkan waktu bersama keluarga. Main sama anak-anak lebih lama, mengunjungi orang tua, memasak masakan favorit keluarga, dan banyak lainnya.

Selain waktu untuk bersama keluarga, akhir pekan adalah waktu untuk melayani dan memperhatikan diri sendiri. Satu hal yang mungkin selama ini sering  kita abaikan di hari-hari biasa. Padahal penting sekali. Memperhatikan diri sendiri juga sebagai bentuk syukur kita karena tubuh, pikiran, dan hati kita sudah bekerja keras selama ini.

Kalau aku, setiap akhir pekan seperti ini, ada ritual khusus yang kupersembahkan untuk diriku sendiri. Tidak lama, tapi perlu untuk kulakukan karena membuatku bahagia. Apa saja itu?

Mengganti Suasana Baru

Cara paling sederhana dan mudah adalah dengan mengganti suasana rumah atau kamar. Untuk yang sering di dapur, mungkin bisa dilakukan dengan mengubah susunan perabot, menambah satu pot tanaman di sudut dapur, atau mengganti vas bunga di ruang tamu. Kalau aku,  setiap akhir pekan aku selalu mengganti sprei di kamar. Ini juga berlaku untuk mukena, sajadah dan handuk. Aku terbiasa mengganti semuanya di setiap hari minggu dengan yang bersih dan wangi. Kelihatan sepele, tapi efeknya luar biasa lho buat hati dan perasaan. Jadi jauh lebih menyenangkan.

Menempel Quotes Penyemangat

Aku menulis quotes dan kutempel di tempat yang mudah kulihat setiap harinya. Setiap hari minggu, sambil mengganti suasana kamar atau rumah, sekalian juga kuganti quotes lama dengan kalimat penyemangatku yang baru. Kalimat ini bisa apa aja, minggu ini aku malah menggunakan kalimat penyemangat ODOP yang sering kubaca setiap selesai mengisi form setoran laporan. Quotes ini juga seperti pengingatku untuk terus bersemangat di hari-hari ke depan.

Memanjakan Diri Sendiri

Tidak salah kok memanjakan diri sendiri. Bahkan penting agar kita tetap waras menjalani kehidupan yang keras hahaha.. Memanjakan diri sendiri versi aku adalah dengan mandi sedikit lebih lama. Luluran, maskeran, keramas, dan diakhiri dengan memakai pelembab badan dengan aroma kesukaanku. Percaya deh,  semua capek seminggu bisa hilang. Itulah mengapa rangkaian produk  bodycareku  awet, karena hanya kugunakan seminggu sekali. Kalau hari biasa mana sempat?

Melakukan Kegiatan Favorit

Seorang teman punya me time setiap akhir pekan dengan memberi waktu tiga jam untuk nonton drakor tanpa diganggu. Menurutku hal seperti itu sangat wajar. Tiga jam itu dia bisa mengisi kembali energinya. Kalau aku,  dengan tidak kemana-mana, minum secangkir kopi pahit panas, makan kue buatan sendiri, dan membaca buku ringan yang menghibur sudah cukup membuatku bahagia. Melakukan  hobi atau kegiatan favorit juga bisa merupakan stress release bagi banyak orang, terlebih bagi yang di hari-hari biasa sudah sangat sibuk. Jadi di akhir pekan seperti ini, luangkan waktu untuk melakukan hobimu ya. Jangan kerja terus! 

Empat cara di atas, selama ini cukup berhasil untuk membuatku lebih bersemangat di hari senin esoknya. Tentu saja cara tiap orang bisa berbeda.  Selalu temukan caramu sendiri untuk membahagiakan diri, untuk mengisi kembali energi yang terkuras habis seminggu kemarin, untuk menguatkan hati menghadapi minggu depan yang penuh tantangan dan cerita baru.

Bagaimana cara teman-teman ber me time di akhir pekan?  Sharing yuk!

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day42

Share