Sunday, July 5, 2020

FUDGY BROWNIES




Suka brownies? Kalau ada yang menanyakan itu padaku, tentu saja akan kujawab iya dengan segera. Brownies adalah salah satu comfort food yang bisa membuat mood membaik dengan segera. Bagiku,  makan brownies sambil minum kopi pahit panas adalah surga. Tapi masalahnya, aku belum nemu brownies yang sesuai seleraku di toko. Sudah mencoba brownies bikinan beberapa toko kue di Kudus, tapi tetap belum seperti yang kumau.

Jadi kalau lagi pengen sekali makan brownies, aku memang lebih suka bikin sendiri. Aku suka brownies yang fudgy, masih basah di tengah, yang kalau digigit terasa sekali cokelatnya yang masih lengket di lidah. Yang pahit manisnya, toppingnya, serta legitnya pas.

Membuat brownies sebenarnya lebih mudah kok dibandingkan bikin cake. Tidak membutuhkan alat pengaduk, tidak membutuhkan bahan tambahan kue sintesis seperti baking powder, sp, atau semacamnya. Dan tidak perlu khawatir akan bantat. Karena brownies kan memang kue yang tidak akan mengembang tinggi seperti cake atau bolu.

Untuk topping, kalau bikin sendiri juga bisa diatur sesuai selera. Bisa chocochips, keju, kacang atau semuanya sekaligus. Kalau aku sedang ingin makan cokelat, aku bikin aja  brownies dengan topping silverqueen yang banyak. Tapi aku paling sering membuat brownies dengan topping kacang almond atau kacang kenari. 

Mau tahu resep brownies andalanku? Boleh dicoba kok.

Orang- orang Biasa, Kisah tentang Persahabatan, Ketulusan, dan Kejujuran.



Judul : Orang-orang Biasa
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Penerbit Bentang
Cetakan : Pertama, Februari 2019
Tebal : 262 halaman

Karya Pak Cik Andrea Hirata yang membuatku jatuh cinta lagi pada buku setelah sekian lama tidak bisa menuntaskan membaca satu bukupun.Buku ini mengingatkanku pada buku Andrea Hirata yang lain yaitu Sirkus Pohon. Sama-sama bisa membuatku tertawa terpingkal-pingkal dan juga menangis terharu. Paket komplit. 

Orang-orang Biasa bercerita tentang kehidupan peduduk kota Belantik. Inspektur polisi Abdul Rojali dan asistennya Sersan P. Arbi sungguh sangat mendambakan terjadi kasus besar yang bisa mereka tangani. Kasus narkoba, perjudian, prostitusi tidak pernah terjadi di Belantik. Maklum, bertahun-tahun tinggal dan bertugas di kota kecil, kasus yang terjadi tidak lain hanyalah pencurian kecil-kecilan yang bisa dihitung dengan satu jari tangan selama setahun.

Tapi siapa menyangka, akan ada sekumpulan kawan yang mempunyai misi besar merampok bank di Belantik. Mereka bukan komplotan penjahat atau perampok professional, mereka hanyalah sekelompok orang biasa yang bahkan sejak SD dianggap guru mereka sebagai anak-anak yang berpikir lamban, pesimis, dan tidak punya masa depan. 

Bagaimana bisa orang-orang biasa yang bekerja sebagai pekerja serabutan, sopir mobil sedot WC, penjual Koran atau motivator gagal bisa mempunyai ide merampok sebuah bank? Mereka melakukannya demi sebuah tujuan mulia. Agar bisa mendapatkan uang untuk biaya kuliah Aini, putri  Dinah, salah satu diantara kawanan itu yang diterima di fakultas kedokteran. Bahkan mereka sudah bertekad untuk merampok uang sebesar biaya kuliah Aini. Tidak kurang, tidak lebih. Eh, bukan merampok sebenarnya. Lebih tepatnya, meminjam dari bank. Mereka juga bertekad, akan mengembalikannya suatu saat nanti.

Persiapan perampokan bank yang membuat mereka harus mengadakan rapat rahasia berkali, yel-yel penyemangat aneh yang diciptakan sang motivator amatir, sampai skenario perampokan maha ajaib sungguh sebuah bacaan yang menyenangkan.

Buku ini adalah cerita tentang persahabatan, juga tentang kejujuran dan ketulusan. Dari orang-orang biasa yang seringnya dianggap sebelah mata oleh orang lain. 

Bagaimana akhirnya cerita perampokan bank mereka? Apakah berhasil? Baca saja yuk..Ada kejutan di akhir kisahnya.

Saturday, July 4, 2020

Awal Baru





Bismillahirrohmanirrohim
Satu email yang kuterima pagi ini, mengingatkanku akan rumah ini. Rumah yang terlalu lama tidak kutengok dan kutempati. 

Rindu. Tapi takut untuk memulai menulis kembali. Banyak hal yang sebenarnya aku sendiri  tahu, tak pernah ada habisnya kalau terus dijadikan alasan.
Kemudian teringat lagi mengapa dulu aku membuat blog ini. Untuk Aca.

Jadi malu pada Aca  kalau tidak kuteruskan. Bukankah kelak, blog ini adalah salah satu caranya mengenalku saat aku sudah meninggal? Tulisan-tulisan di sini, yang akan membuatnya mengerti banyak hal, yang mungkin sekarang sulit dia pahami?

Jadi, kuijinkan diriku untuk mulai menulis lagi. Sebuah awal baru di sini. Akan ada banyak cerita, warna, dan perubahan. Semoga, hanya hal-hal baik yang kutulis di sini. Agar kelak Aca belajar, sebanyak apapun hal buruk yang menghampiri, akan selalu ada kebaikan yang bisa kita pilih untuk dilakukan, dipikirkan, dan dibagikan. 

Selamat membaca Aca..
Selamat membaca semuanya...
Share