Wednesday, September 30, 2020

SEPTEMBER RECAP

 


Teman-teman, ada yang sepertiku yang setiap bulan membuat rangkuman bulanan ?

Setiap akhir bulan seperti ini, aku membuat rangkumam pencapaianku dalam satu bulan. Alasannya adalah untuk mengetahui apa yang sudah kulakukan sebulan ini dan apa yang bisa kuperbaiki untuk bulan depan. Biasanya aku membuat semacam pranala sederhana dan menuliskannya di buku jurnal. Tapi kini, aku mulai membiasakan diri untuk membaginya di grup WhatsApp bersama teman-teman terdekat lain untuk saling mengingatkan dan menyemangati.

Tidak harus detil,  tapi secara garis besar ada beberapa poin penting yang selalu kurangkum setiap bulannya yaitu :

1.     Ibadah

Dalam satu bulan ini, ibadah mana yang masih bolong-bolong dan harus kuperbaiki bulan oktober nanti? Apa sebulan ini shalatku sudah di awal waktu? Apa aku sudah menyediakan waktu untuk membaca Al Quran dan mempelajarinya? Apa aku sudah rutin mengikuti kajian dan benar-benar menerapkan ilmunya?

 2.   Karya

Apa hal baru yang kupelajari? Apakah sudah kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Bulan september ini aku belajar tentang editing video sederhana menggunakan handphone  dan belajar menggunakan aplikasi canva untuk membuat ilustrasi. Bulan september ini juga menjadi luar biasa karena dengan mengikuti One day One Post, aku jadi bisa rutin membuat karya setiap hari dengan menulis di blog.

 3.   Kesehatan

Bulan ini, olahragaku masih banyak bolongnya. Jalan pagi dan workout, belum rutin kulakukan. Apa sebabnya? Apa yang bisa kulakukan agar bulan oktober nanti bisa kutingkatkan progresnya?

4.     Proyek Kebaikan

Apa proyek kebaikan bersama dan pribadi sudah kulakukan di bulan september? Apa yang bisa kuperbaiki dalam melaksanakanya?  Ini juga yang jadi patokan membuat proyek kebaikan bulan depan. Selalu ada alasan untuk terus berbuat baik kan?                                     

5.     Syukur

Bulan september, hal-hal apa yang membuatku bersyukur? Bulan ini, banyak kemudahan luar biasa yang kuterima. Bersyukur aku mempunyai teman-teman yang selalu membantuku bahkan sebelum kuminta, bersyukur atas nikmat sehat bagi keluarga dan orang-orang tersayang, bersyukur atas waktu yang Allah berikan, bersyukur untuk tetap diberikan kekuatan sampai sekarang.

 6.   Pelajaran Berharga

Apa pelajaran penting yang kudapat bulan ini? Tentang waktu. Terasa sekali waktu 24 jam sehari kurang bagiku. Masih merasa kekurangan waktu dalam melaksanakan banyak hal. Padahal itu hanya karena manajemen waktuku yang payah. Apalagi salah satu tema kajian yang kuikuti minggu lalu adalah tentang pentingnya kita menggunakan waktu untuk mencari sebanyak mungkin bekal di akhirat nanti. Berasa makin jleb pelajarannya. Bulan depan harus lebih memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

 

Membuat rangkuman seperti ini, membantuku  mengetahui apa yang harus kuperbaiki dari diri sendiri. Bukankah hari esok harus lebih baik dari hari ini? Hari esok mungkin juga tidak sempurna, tapi paling tidak, aku terus berproses untuk memperbaiki diri. Dari hari ke hari.

Akhirnya, bulan september ini seru dan menyenangkan. Banyak hal baru yang kupelajari, karya yang kubuat, dan banyak sekali hal yang bisa kujadikan alasan untuk terus bersyukur. Alhamdulillaah. Ada juga kejutan manis yang terjadi di bulan ini dan semoga bulan oktober nanti akan semakin banyak hal-hal baik yang terjadi. Aamiin. 

 

September, thank you!

October, welcome. Please be nice to me 😍

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day24

 

Tuesday, September 29, 2020

SKIN AQUA, SUNSCREEN KESAYANGAN

 


Hari ini aku menulis sesuatu yang berbeda dari biasanya, Tentang skincare. Bukan apa-apa, kebetulan tadi seharian bersama seorang teman dan dia sempat bertanya padaku ketika aku memakai sunscreen setelah wudhu dan sholat.

Kalau perempuan lain membawa bedak, lipstick atau kaca di tasnya, aku tidak hahaha. Aku tidak membawa alat make up karena memang tidak biasa dan tidak bisa memakai make up. Tapi ada barang yang aku bawa di tas dan sering kupakai beberapa kali sehari yaitu sunscreen.

Kenapa sunscreen? Karena aku bekerja hampir 80% di lapangan. Kena sinar matahari, panas, debu, polusi, dan memakai sunscreen adalah usahaku untuk melindungi kulitku dari pengaruh buruk itu semua.

Sebenarnya baru-baru ini saja aku mulai rutin menggunakan sunscreen. Sejak pandemi, aku jadi punya banyak waktu untuk belajar hal baru seperti skincare, dan kemudian baru sadar  kalau aku selama ini terlalu mendholimi kulitku sendiri karena tidak merawatnya. Salah satu contohnya adalah  dengan tidak pernah memakai sunscreen meskipun aktivitasku luar biasa di alam terbuka dan sering terkena sinar matahari sepanjang hari.

Padahal, paparan sinar matahari mempunyai sinar ultraviolet UVA dan UVB yang bisa berakibat buruk bagi kulit. UVB dapat menyebabkan kulit terbakar, belang, melepuh dan pigmentasi kulit jangka panjang, sementara UVA dapat menyebabkan kerusakan yang lebih dalam dan dalam jangka panjang akan bisa menyebabkan kanker kulit. Seram sekali bukan? Aku sering sekali seharian dari pagi sampai sore berada di bawah terik matahari tanpa memakai pelindung kulit apapun. Bahkan bedak pun tidak! Dulu, aku memang merasa setiap kena panas sinar matahari sepanjang hari, malamnya pasti kulitku akan perih, memerah dan gatal. Kupikir hanya karena kepanasan jadi aku biarkan saja. Tidak terpikir sama sekali bahwa itu adalah efek buruk sinar UVA dan UVB.

Setelah aku mengetahui efek buruk sinar matahari, aku tidak pernah absen menggunakan sunscreen. Karena cara terbaik menghindari bahaya sinar matahari adalah menggunakan sunscreen atau sunblock setiap keluar rumah dan memperbanyak konsumsi cairan. Saat ini ada dua jenis sunscreen yang bisa dipilih yaitu chemical sunscreen dan physical sunscreen.

Chemical sunscreen bekerja dengan cara menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi panas yang dikeluarkan oleh kulit. Chemical sunscreen ini bisa melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB sekaligus. Teksturnya lebih cair, ringan, dan mudah menyerap ke dalam kulit.  Sayangnya, produk ini lebih mudah membuat kulit menjadi iritasi dan kemerahan karena ia menyerap ke dalam kulit. Untuk kulit sensitif sebaiknya berhati-hati menggunakan chemical sunscreen ini.

Berbeda dengan chemical sunscreen, physical sunscreen bekerja dengan cara melindungi permukaan kulit dengan membuat lapisan baru yang berfungsi sebagai tirai sehingga sering disebut sebagai sunblock. Oleh karena itu, teksturnya cenderung lebih tebal

Walaupun teksturnya tebal dan susah menyerap, physical sunscreen tidak mudah menimbulkan iritasi pada kulit. Selain itu, ia juga bekerja secara lebih stabil dan efektif untuk jangka waktu yang cukup lama sehingga tidak perlu  sering-sering re-apply. Ia juga mampu melindungi dari sinar UVA, UVB, dan radikal bebas. Physical sunscreen cocok digunakan untuk kulit sensitif sekalipun.

 Apa sunscreen andalanku? Aku sudah terlanjur jatuh hati dengan Skin Aqua. Sunscreen sejuta umat kata orang-orang. Skin Aqua ini jenis sunscreen type hybrid yaitu campuran antara  Physical sunscreen dan chemical sunscreen. Aku menggunakan yang moisture Gel dengan kandungan SPF 30. Susncreen ini mengandung Improved Hyaluronoc Acid, Kolagen, Vitamin B, E dan C dapat melembabkan , melembutkan, mempertahankan elastisitas kulit dan menutrisi kulit.

Cara penggunaan Skin Aqua juga mudah. Hanya diusapkan ke wajah atau bagian tubuh lain yang telah dibersihkan. Aku memakainya beberapa kali dalam sehari, terutama setelah kulit terkena air atau berkeringat. Kemasan sunscreen ini kecil dan travel friendly, mudah dibawa  kemana-mana, jadi tidak masalah untuk re-apply sewaktu waktu.

Sejauh ini Skin Aqua UV Moisture Gel SPF 30 ini cocok di kulitku. Seperti klaim di kemasannya, yaitu melembabkan kulit secara maksimal. Aku paling suka teksturnya yang ringan, watery dan cepat meresap jadi tidak butuh waktu lama untuk menunggu sunscreen ini meresap ke kulit. Sama sekali tidak lengket. Dia oil free sehingga cocok untuk kulit berminyak. Selain itu dapat digunakan sebagai dasar make up (meskipun aku tidak pernah make up an), dan tidak ada tambahan pewarna dan parfumnya.

Setelah rutin menggunakan Skin Aqua UV Moisture Gel SPF 30 ini selama kurang lebih 4 bulan, aku bisa merasakan perubahan yang postitif di kulitku. Tidak ada lagi iritasi, kemerahan, perih dan gatal seperti dulu yang sering kurasakan setiap aku selesai bekerja seharian di bawah sinar matahari. Terima kasih Skin Aqua!

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day23

 

Monday, September 28, 2020

PROYEK KEBAIKAN

 


Saat kita mendengar sebuah proyek, apa yang terpikirkan? Pembangunan jalan, bangunan, atau saluran air? (Ini sih berhubungan dengan pekerjaanku banget yak hahaha). Tapi yang ini beda. Bukan proyek pembangunan infrastruktur, tapi proyek kebaikan.

Menurut KBBI, proyek artinya rencana pekerjaan dengan sasaran khusus (pengairan, pembangkit tenaga listrik, dan sebagainya) dan dengan saat penyelesaian yang tegas. Jadi di sini, dalam kata proyek ada dua hal penting yaitu sasaran dan waktu.

Setiap bulan, aku dan teman-teman di grup WhatsApp (yang jumlah anggotanya cuma lima orang) membuat proyek kebaikan. Kegiatannya berbeda  tiap bulan. Setiap awal bulan, kami berdiskusi tentang proyek kebaikan apa yang akan kami sepakati untuk dilakukan. Masing-masing dari kami wajib melaksanakan proyek kebaikan tersebut  sebelum akhir bulan.

Kenapa proyek kebaikan? Untuk mengingatkan kami bahwa kebaikan itu harus dibiasakan. Dan lebih baik lagi direncanakan. Kami membagi proyek kebaikan menjadi dua yaitu proyek kebaikan pribadi dan proyek kebaikan bersama. Proyek kebaikan pribadi ini boleh apa saja, tiap orang bisa berbeda. Tapi untuk proyek bersama, kami menyepakati satu kegiatan yang sama untuk kami lakukan.

Bulan September ini, proyek kebaikan bersama kami adalah dengan mengurangi isi lemari. Seperti yang sudah kuceritakan di sini. Teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Dalam jangka satu waktu bulan, kami harus menyelesaikan proyek tersebut dan melaporkannya di grup.

Harus dilaporkan? Harus dong. Terserah deh mau dibilang riya atau sombong, tapi ini cara kami saling belajar, menyemangati dan berbagi satu sama lain. Seperti soal mengurangi isi lemari kemarin, ada satu teman yang mengajak sahabat-sahabatnya untuk membantunya meyortir baju di lemarinya. Naah, sahabat-sahabatnya itu boleh memilih baju yang mereka suka, sebelum yang lain didonasikan. Bukankah itu ide yang  bagus? Aku sendiri tidak kepikiran hal semacam itu lho. Bisa dicontoh kan?

Kalau untuk proyek kebaikan pribadi, bisa apa saja. Disesuaikan dengan kemampuan, kebutuhan dan keadaan diri sendiri. Bulan ini, proyek kebaikanku adalah dengan berusaha konsisten menulis di blog (dengan mengikuti ODOP ini ). Proyek kebaikan pribadi ini, boleh dilakukan untuk diri sendiri atau untuk orang lain asal bermanfaat. Belajar mencintai diri sendiri, memulai satu kebiasaan baik seperti berolahraga tiap pagi, itu juga sebuah proyek kebaikan. Proyek kebaikan pribadi ini boleh lebih dari satu dalam satu bulan. Tentu saja makin banyak makin baik.

Membuat proyek kebaikan juga membuat kami bersemangat untuk selalu mencari peluang-peluang kebaikan. Hal-hal sederhana seperti mengucapkan terima kasih kepada pekerja umum yang ditemui, memberi makan kucing liar di jalan, atau menulis komentar positif di status teman. Dengan begitu, kapan saja dan di mana saja, otomatis kami akan lebih peka untuk selalu menjadi agen kebaikan. Sekecil apapun perbuatannya.

Karena kalau kita kesulitan menemukan orang baik di sekitar kita, kenapa tidak jadi salah satu di antaranya saja? Menjadi orang baik. 

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day22

 

Sunday, September 27, 2020

DI TEPI DERMAGA

 


“Tunggu aku di tepi dermaga tiga bulan lagi. Tanggal satu. Aku akan ikut berlayar bersamamu. Kita tinggal di pulau kecil itu.”

Sejak hari itu, aku tidak pernah bisa tidur nyenyak. Membayangkan kekasihku bersamaku setiap hari mengarungi lautan. Kami akan tinggal di sebuah pulau kecil nan cantik yang kuceritakan padanya beberapa kali.

Dia seperti bidadari. Wajah cantiknya tak tertandingi oleh perempuan manapun yang kujumpai. Sejak pertemuan pertama di pantai dulu, aku jatuh cinta padanya. Dia tengah menangis ketika aku melihatnya di tepi pantai kala itu.

Sejak saat itu dia setiap hari datang ke pantai ini. Menungguku pulang berlayar. Bercerita panjang lebar padaku. Tentang orang tuanya yang menjodohkannya dengan laki-laki yang tidak disukainya, tentang kesukaannya melihat bintang dan bulan di malam hari. Atau tentang lautan yang katanya seperti menyihirnya untuk selalu datang setiap kali dia sedih.

Lama-lama aku jadi punya alasan untuk pulang. Jika sebelumnya aku bisa berminggu minggu berlayar, menjelajahi pulau-pulau asing dan menginap bermalam-malam di sana, aku selalu pulang karena dia.

Sejak dia bilang akan ikut bersamaku berlayar hari itu, aku terus bekerja keras tak kenal waktu. Menjadikan kapal kecilku  cukup layak untuk  dia tempati nanti. Mengecatnya dengan warna cerah dan memastikan kapal itu secantik dia. Sang Bidadari. Aku menghabiskan semua uang yang kupunya untuk membeli perbekalan selama nanti kami berlayar.

Tiga bulan yang terasa lama sekali bagiku akhirnya tiba.

Malamnya aku sama sekali tidak bisa tidur. Besok adalah hari yang katanya dia akan datang. Aku sangat merindukannya. Rindu senyumannya yang menawan, rambut berantakannya yang tertiup angin pantai. Kaki jenjangnya yang semakin indah terkena pasir keemasan.

Sejak fajar, aku sudah menunggu di dermaga. Kembali kubersihkan setiap jengkal perahuku. Bidadariku harus merasa nyaman di dalamnya. Sampai matahari berada di atas kepala, tak kunjung dia datang.

“Ah, mungkin senja nanti… ”

Tapi sampai malam menjelangpun, sang bidadariku tak kunjung datang. Aku tidak berani tidur, takut dia datang lalu tidak bisa menemukanku saat aku terlelap.

“Mungkin tengah  malam nanti..,”

Tapi sampai matahari terbitpun dia tidak datang. Meskipun aku menunggu dengan sabar.

Besok. Lusa. Seterusnya. Sampai saat ini. Bertahun-tahun kemudian.

Aku masih selalu menunggunya di tepi dermaga. Perempuan paling cantik di alam semesta. Yang berkata akan ikut bersamaku mengarungi samudra.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day21

Saturday, September 26, 2020

KUE HUNKWE NANGKA

 


Sudah tahu belum tentang tepung hunkwe? Tepung hunkwe adalah tepung yang terbuat dari pati kacang hijau. Warnanya putih, aromanya harum dan mempunyai tekstur yang sedikit lebih kasar dari tepung terigu.

Selain membeli tepung hunkwe yang sudah jadi, kita bisa membuatnya sendiri. Kacang hijau kupas disangrai, didiamkan hingga dingin, kemudian dihaluskan. Dengan membuat sendiri tepung hunkwe, kita bisa menjamin kualiatsnya. Terkadang, tepung hunkwe di pasaran ada yang dicampur dengan tepung maizena sehingga mempengaruhi rasa dan hasil akhir makanan.

Tepung hunkwe bisa digunakan untuk membuat berbagai macam makanan. Biasanya makanan yang menggunakan tepung ini betekstur kenyal. Makanan yang sering dijumpai menggunakan tepung ini misalnya kue lapis, es gabus, jentik manis, nagasari hunkwe. Bahkan cendol juga bisa dibuat dari tepung hunkwe. Dengan menambahkan tepung hunkwe di adonan kue kering kabarnya akan membuat kue kering lebih renyah.

Karena sedang punya tepung hunkwe di rumah, aku membuat cemilan manis yang mudah sekali dibuat menggunakan tepung ini. Rasanya enak sekali. Legit, manis, dan harum. Teman-teman bisa mengganti nangka dengan pisang kukus atau jagung yang sudah direbus ya. Sama kok enaknya. Dicoba yuk..

KUE HUNKWE NANGKA

Bahan-bahan :

Lapisan Putih :

60 gr tepung hunkwe

600 ml santan

100 gr gula apsir

½ sdt garam

Nangka dipotong dadu kecil

 

Lapisan Hijau :

40 gr tepung hunkwe

300 ml air

50 gr gula pasir

Sejumput garam

Pasta pandan secukupnya

Cara Membuat :

1.     Lapisan putih : Larutkan tepung hunkwe dengan santan gula dan garam. Masak dengan api kecil sambil terus diaduk hingga mendidih dan meletup-letup. Matikan api. Masukkan nangka. Aduk rata. Tuang adonan ke dalam cetakan setinggi 3/4 cetakan.

2.   Lapisan hijau : Larutkan tepung hunkwe dengan semua bahan. Masak dengan api kecil sambil terus diaduk hingga mendidih dan meletuP-letup. Matikan api. Tuang di aats lapisan putuh hingga cetakan penuh,

3.     Dinginkan dan lepaskan dari cetakan

4.     Siap disajikan.

 

#OneDayOnePost
#ODOP
#Day20
Share