Saturday, October 31, 2020

CINCAU JELLY, ENAK DAN KAYA MANFAAT

 


Alhamdulillah, pagi ini aku panen daun cincau jelly untuk pertama kalinya. Sebenarnya, pohon cincaunya masih kecil, tapi daunnya sudah banyak dan mulai merambat kemana-mana, jadi aku panen saja sekalian. Aku membeli bibit pohon cincau jelly ini kurang lebih enam bulan yang lalu. Kutanam di pot dan menurutku tumbuhnya lambat sekali, baru akhir-akhir ini kulihat mulai ada daun-daun baru yang sudah merambat ke pagar.

Sebelum punya pohon cincau jelly ini, aku pernah menanam cincau perdu. Kalau cincau jelly jenis tanaman merambat, cincau perdu batangnya berkayu dan tipe tumbuhnya merimbun. Daunnya juga berbeda. Cincau jelly daunnya berbentuk perisai atau jantung, kecil dan licin, sedangkan cincau perdu daunnya lebih lebar dan kaku. Sayangnya cincau perdu milikku mati sebelum aku sempat memanen daunnya. 

Selain cincau perdu dan cincau jelly, ada satu jenis cincau lagi yang biasa tumbun di Indonesia yaitu cincau hitam. Cincau hitam juga banyak jenisnya. Biasanya cincau hitam dikenal dengan sebutan pohon janggelan. Pohon ini memiliki batang yang ramping, bentuk daunnya lonjong berujung runcing dan bergerigi.

Sementara itu, beberapa manfaat  cincau adalah :

1.       Mencegah kanker Kulit

2.       Mencegah kanker usus

3.       Mengobati panas dalam

4.       Penurun tekanan darah tinggi

5.       Memerangi penyakit jantung

Kembali ke pohon cincau jelly milikku. Karena aku suka beli es cincau hijau di jalanan dan kemudian ingin bisa bikin sendiri, aku memang bertekad menanam cincau jelly di rumah. Untuk perawatannya,pohon  ini termasuk mudah dirawat. Aku hampir tidak pernah melakukan perawatan yang luar biasa. Hanya menyiramnya setiap hari dan memberi tambahan pupuk kandang kalau tanahnya sudah  mulai berkurang. Tanaman cincau jelly akan lebih maksimal pertumbuhannya jika ditanam di tanah langsung. 

Pohon cincau jelly yang kutanam di pot dan kurambatkan di pagar
 

Nah, untuk panen daun cincau jelly,  aku mengambil daun yang sudah tua dan lebar. Daun ini lebih kaku dibanding daun mudanya. Tadi pagi aku mengambil sekitar 50 daun cincau jelly yang sudah tua. Siap untuk kujadikan cincau. Ini dia cara pembuatannya.

daun cincau yang sudah tua
 

1.     Cuci Bersih daun cincau. Aku mencucinya dua kali menggunakan air kran (airku PDAM). Kemudian di pencucian terakhir, aku mencucinya dengan air matang.

2.      Siap untuk memeras daunnya. Caranya, siapkan air matang sekitar 500 ml air dan mulai remas-remas daun cincau jellynya dengan dituangi air sedikit demi sedikit.

3.       Lakukan terus sampai daun cincau nya berubah warna menjadi pucat.

4.       Saring air remasan cincau dengan saringan halus. Lakukan dua kali jika diperlukan.

Cincau jelly setelah kudiamkan di kulkas selam 3 jam

5.       Cetak ke dalam wadah dan dinginkan minimal dua jam.

 

 

Tekstur cincau jelly yang lembut

Cincau jellynya sudah jadi. Warnanya hijau pekat dan mengkilap. Teksurnya berbeda dengan agar-agar atau jelly pabrikan ya. Cincau ini lembut, licin dan tidak terlalu kenyal. Setelah cincaunya jadi, saatnya kita membuat minuman segarnya. Cincau ini sebenarnya bisa dikonsumsi begitu saja. Ditambahkan air dan madu juga sudah enak. Tapi, karena aku suka repot, tentu saja aku menambahkan bahan-bahan lain agar lebih mantap.  Apa yang kubuat dari cincau jelly hari ini?

 

ES CINCAU SANTAN GULA AREN

Es Cincau Santan Gula Aren
 

Ini jenis minuman sehat yang menyegarkan. Aku menggunakan santan segar tanpa dimasak dulu. Santan segar punya banyak manfaat dan jauh lebih sehat dibanding santan yang melalui proses pemanasan. Untuk pemanisnya, aku menggunakan  gula aren yang kuberi air dan kumasak sampai larut dan mendidih. Cara menyajikannya adalah dengan menuang santan, gula aren, dan cincau ke dalam gelas. Beri tambahan es batu. Agar makin enak, tadi aku menambahkan potongan nangka ke dalamnhya. Duh, rasanya  enak banget.

 

ES KOPI SUSU CINCAU

Es Kopi Susu Cincau

Mumpung masih ada sisa cincau, aku mencoba membuat minuman lain. Kalau ini tidak terlalu sehat ya karena ada tambahan susu kental manis yang banyak mengandung gula. Caranya hanya dengan menyeduh kopi hitam, tambahkan susu kental manis satu sachet dan tambahkan air secukupnya. Masukkan cincau sesuai selera. Tambahkan es batu dan siap diminum. Enak.

Pengalaman pertama panen dan membuat cincau jelly sendiri hari ini menyenangkan. Jadi makin semangat merawat tanaman kaya manfaat ini. Kalau begini sih jadi kepikiran menambah satu pohon cincau lagi di rumah. Biar makin banyak daun yang bisa dipanen. Teman-teman, ikut menanam pohon cincau juga yuk di rumah..

 

Referensi : https://health.kompas.com/read/2020/05/09/172800668/5-manfaat-cincau-obati-panas-dalam-hingga-cegah-kanker?page=all


#OneDayOnePost

#ODOP

#Day55

Friday, October 30, 2020

UNTUK BAPAK

 


Bapak, hari ini aku mengunjungi makammu lagi.  Maafkan aku yang tidak bisa sering-sering menengokmu. Tapi kupastikan doaku tak pernah putus untukmu. 

Bapak, bagaimana di sana? Bahagiakah engkau? Bukankah sekarang tak lagi merasa sakit seperti yang kaurasakan di tahun-tahun terakhir kemarin? Semoga Allah selalu memberikan kelapangan di tempatmu kini. 

Bapak, kali ini ingin sekali kubercerita banyak hal. Tentang perubahan-perubahan yang terjadi setelah engkau pergi, tentang rasa yang kualami, tentang lelah yang sedang kulawan setiap harinya, tentang kerinduan yang kutahan setiap waktunya. Padamu. Padanya.

Bapak, aku mengaku. Masih saja sering menangis, terkadang ingin menyerah, dan sesekali aku marah pada diriku sendiri yang tak kunjung berani melangkah lagi. Pelan-pelan akan kucoba. Sedikit demi sedikit.

Bapak, maaf, lagi-lagi aku belum bisa menepati janjiku. Tapi aku ingat pesanmu, jika Allah belum mengabulkan doa-doaku, belum mengiyakan permintaanku, yang harus kulakukan hanyalah terus mencoba ikhlas dan sabar. Allah pasti punya rencana indah untukku.

Bapak, jangan khawatir. Tenanglah. Kami akan baik-baik saja. Allah pasti akan menjaga semuanya yang ada di sini. Sampai waktunya kita akan bertemu lagi.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day54

Thursday, October 29, 2020

CINTA TAK BERSYARAT UNTUK RASULULLAH

 


Meskipun bukan hari Jumat, hari ini aku mau menulis resume kajian bersama Ustadz Hilman Fauzi tanggal 24 Oktober 2020 kemarin. Mumpung hari ini bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tapi resumenya tidak bisa kutulis lengkap, karena kajian kemarin sungguh luar biasa. Aku menangis selama mendengarkan kajian karena terpesona dengan kisah-kisah luar biasa Rasulullah semasa hidupnya.  

Untuk mengawalinya, aku akan cerita kejadian kemarin, saat aku mampir ke  sebuah tempat jahit untuk memotong gamis. Tukang jahitnya sudah tua, berusia sekitar tujuh puluh tahun.

“Ditunggu saja ya mbak. Daripada bolak balik. Tapi sabar ya. Mata tua ini harus pelan-pelan jahitnya,“ katanya ramah waktu aku menyerahkan gamisku.

 “Apa kuambil besok saja Pak?” tanyaku.

“Besok libur mbak, “ jawabnya.

“Oh iya ya. Besok libur. Maulid Nabi, “ aku teringat kalau besok adalah hari libur.

“Iya mbak, ada pengajian di rumah,”  kata beliau lagi.

Aku  duduk dan mengamati beliau mulai mengukur gamis dan memberi tanda di bagian yang harus dipotong.

“Waah..Maulidan ya Pak?” tanyaku bersemangat.

“Iya mbak. Setahun sekali kok. Mosok tidak dirayakan dengan istimewa kelahiran Kanjeng Nabi kita. Ada pengajian sederhana setiap tahun di rumah, “ jelasnya dengan wajah berbinar.

Mendengarnya mataku panas seketika. Terharu.

Kemudian beliau menceritakan tentang pengajian yang dimaksud. Hanya mengundang para tetangga untuk membaca sholawat dan ditutup dengan makan bersama. Sebelumnya anak-anak di sekitar rumahnya  juga  diberi makanan ringan beraneka jenis untuk menyenangkan mereka.

Aku jadi teringat isi kajian sabtu kemarin. Tentang Cinta tanpa syarat.

Apa itu tanpa syarat? Cinta yang meskipun tidak mengenal yang dicintai, tidak  pernah bertemu, tidak hidup dalam satu jaman, tapi cinta terhadapnya tetap tak terbatas. Tak bersyarat.

Itulah seharusnya yang disebut Unconditional Love kepada Rasulullah. Cinta yang besar sekali kepada beliau. Melebihi cinta kepada siapapun di dunia ini.

Kenapa? Karena cintanya Rasulullah kepada kita juga sungguh tidak terbatas.  Beliau mencintai kita bahkan sebelum kita lahir.

Disebutkan kisah suatu hari Rasulullah sedang bersama para sahabat. Beliau berkata bahwa beliau rindu dengan saudara-saudaranya. Para sahabat kebingungan,

“Ya Rasululullah, bukankan kami ini saudaramu? Kami sedang bersamamu sekarang,” Kata salah seorang sahabat.

“Tidak, kalian adalah sahabatku. Aku merindukan saudara-saudaraku,” Rasululullah menjawab.

“Siapa saudaramu itu ya Rasulullah?”

“Saudaraku adalah umatku yang lahir setelah jamanku. Mereka tidak mengenalku. Mereka tidak pernah bertemu denganku, tapi mereka mencintaiku. Sungguh, aku lebih mencintai mereka. Aku merindukan mereka.”

Itulah kita..Yang disebut saudara oleh manusia paling mulia di muka bumi.

Adalah juga kita..yang disebut oleh Rasulullah menjelang beliau wafat. Yang sangat dikhawatirkan oleh beliau baginda Nabi. Kita..Umatnya.

Ummati…ummati...ummati…

Sebuah cinta tanpa syarat yang tidak ada bandingannya.

Kini, mampukah kita mencintai Rasulullah kembali?

Padahal jika kita ingin mencintai dan dicintai oleh Allah, maka syarat pertama dan utamanya adalah  dengan mencintai Rasulullah dan  mengikuti sunnah-sunnahnya. Dengan mengikuti karakter, sifat, kebiasaan Rasulullah, berarti kita sedang menjadi pribadi yang dicintai oleh Allah”

Yang bisa kita lakukan sekarang  adalah, berusaha sekuat tenaga kita untuk menjadi pribadi terbaik yang kita bisa seperti Rasulullah. Apapun peranan kita sekarang. Menjadi guru yang terbaik, karyawan yang terbaik, penulis yang terbaik, pengusaha yang terbaik, bahkan tukang jahit yang terbaik. Terbaik dalam hal ketakwaan pada Rabb Nya. Agar Rasulullah bangga mempunyai umat seperti kita.

Dan hari ini, teringat kembali kakek tukang jahit itu, yang telah menyiapkan acara maulid nabi berbulan-bulan sebelumnya.  Siapa tahu beliau sudah menjadi tukang jahit terbaik yang kelak bisa Rasulullah banggakan.

Bagaimana denganku? Aku malu. Saatnya aku juga berbenah. Mulai sekarang.

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day53

Wednesday, October 28, 2020

TERIMA KASIH

 


Kemarin,

Aku melihat satu dua orang dari kalian membagikan makanan di jalanan

Aku juga melihat ada yang rela turun ke lokasi-lokasi pengungsian

Hanya untuk memastikan ada  senyuman yang sempat hilang

 

Hari ini,

Aku melihat satu dua orang dari kalian bahu-membahu memberi beasiswa

Untuk anak-anak putus sekolah dan tidak lagi punya orang tua

Hanya untuk memastikan ada masa depan yang lebih baik untuk mereka

 

Besok,

Aku pasti akan menyaksikan satu dua orang dari kalian yang masih bertahan

Terus berkarya, memberi, dan berbagi  untuk  sesama

Hanya untuk memastikan tidak ada lagi orang yang menderita

 

Kami,

Orang-orang tua yang hanya bisa menuntut kalian menjadi penerus bangsa

Tapi lupa mengajari bagaimana caranya

Bahkan memberi contoh keburukan semenjak kalian masih sangat belia

 

Terima kasih…

Untuk tidak menjadi seperti kami.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPBatch8

#TantanganPekan8

#Day52

Tuesday, October 27, 2020

BELAJAR SEPANJANG USIA

 


Kemarin, saat aku diminta mengisi data diri untuk keperluan komunitas, aku  berhenti untuk berpikir di satu pertanyaan yaitu “apa motto hidupmu saat ini?”  Aku lupa kapan terakhir kali aku diberi pertanyaan seperti itu dan apa jawabanku kala itu, tapi sekarang, aku lebih ingin menjawabnya dengan kalimat lain yaitu : “Jangan pernah lelah untuk belajar.” 

Menurutku, hidup adalah tentang belajar banyak hal. Bukan hanya tentang pelajaran formal, tapi juga beragam pelajaran kehidupan. Sampai kapan kita mesti terus belajar? Kalau seperti kata pepatah, belajarlah dari lahir sampai ke liang lahat. Atau belajarlah sepanjang usia. Ini nih yang sering kita lupakan.

Seiring bertambahnya usia, merasa nggak sih kalau kita beranggapan tidak perlu untuk belajar lagi? Yang jelas aku dulu berpikiran seperti itu. Aku dulu sering melewatkan kesempatan untuk belajar hal-hal baru karena beralasan aku sudah terlalu tua untuk mempelajarinya.

Padahal itu sama sekali tidak benar. Tidak ada yang terlalu tua untuk mulai belajar.Yang ada adalah orang yang terlalu malas untuk belajar. Kalau sudah malas, pasti ada saja yang menghalanginya untuk belajar. Apalagi hanya soal meluangkan waktu.

Tapi memang semuanya butuh komitmen. Belajar berarti berkomitmen meluangkan waktu khusus. Di luar dari segala kesibukan kita. Ini yang terkadang dirasa berat. Apalagi jika belajar dianggap sebagai beban. Padahal belajar hal-hal baru bisa dijadikan sebagai mood booster dan pilihan me time di tengah kesibukan kita sehari-hari. Selain mendapat keuntungan dengan bertambahnya skill yang kita punya, kita juga otomatis akan mendapatkan lingkaran pertemanan baru.

Pilihan cara belajarpun beragam. Banyak yang menyediakan fasilitas belajar secara langsung. Atau bisa juga dengan mengikuti kelas-kelas daring yang banyak ditemukan di masa pandemi sekarang ini. Ada yang berbayar dan  ada yang gratis. Tinggal disesuaikan saja dengan waktu dan hasil yang kita inginkan. Hanya pastikan setiap kita memutuskan untuk memulainya, berarti kita juga punya komitmen untuk melaksanakannya sampai akhir.

Yang jelas, kurangi alasan yang bisa membuat kita malas belajar. Gali potensi diri sebanyak mungkin selama kita masih diberi kesempatan hidup. Di luar sana banyak orang-orang berumur yang baru mulai belajar skill dan ilmu baru, dan mereka bahagia karenanya. Aku sering menjumpai orang-orang yang berusia jauh di atasku baru mulai belajar bahasa asing, merajut, berkebun, dan melukis. Bahkan banyak diantaranya yang bisa menghasilkan uang dari hasil belajar tersebut.

Melihat mereka, aku malu kalau tidak mau belajar. Jadi seperti yang selalu kutanyakan pada diriku sendiri setiap akhir bulan adalah, belajar hal baru apa  bulan ini?

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day51

Share