Tuesday, November 24, 2020

MEMBERI TANPA MENYAKITI

 


Menjadi relawan di beberapa komunitas sosial sering membuatku ikut dalam penyaluran santunan, bantuan, atau bingkisan dalam berbagai bentuk. Kadang berupa uang tunai, sembako, atau bahkan hanya satu porsi nasi bungkus.

Beberapa waktu lalu, aku dikirimi sebuah artikel oleh Mba Dini yang di dalamnya ada berita tentang pembagian nasi bungkus yang penerimanya  meminta swafoto saking seringnya ia mengalami kejadian serupa. Mendapatkan satu nasi bungkus, difoto, lalu selesai begitu saja.

Tapi memang, pernahkah kita terpikir, bahwa, mungkin, ada hati yang telah tersakiti hanya karena kita mengajak mereka berfoto bersama kita dengan tersenyum paksa dan memperlihatkan satu buah bingkisan menghadap kamera?

Padahal bisa jadi, mereka malu. Mereka membutuhkan bantuan, tapi malu ketika merasa dengan menerima bantuan jadi wajah mereka ada di mana-mana. Bisa jadi, mereka tidak nyaman karena satu dua hal. Atau alasan-alasan lain yang kita sendiri tidak mengetahuinya.

Coba bayangkan jika kita di posisi mereka, kelaparan, memikirkan ada anak istri di rumah yang akan sangat bahagia menerima nasi bungkus gratis, ingin segera pulang menyerahkan nasi bungkus tersebut, tapi jadi lama karena harus mengikuti “aturan” pemberi nasi bungkus dengan berfoto bersama.

Dokumentasi memang sangat penting. Terutama penyaluran bantuan yang berasal dari penggalangan dana yang melibatkan banyak orang. Dokumentasi menjadi wajib sebagai bukti bahwa donasi meerka telah disalurkan dengan baik dan tepat sasaran kepada yang membutuhkan. Tapi kita harus lebih selektif untuk memilih dan memilah dokumentasi yang diperlukan agar tidak menyakiti hati penerima.

Sejak saat itu, aku jadi lebih berhati-hati saat mengambil foto para penerima manfaat atau penerima bantuan. Bahkan aku sangat menghindari kalau penyaluran bantuan  dibatasi waktu dan terburu-buru, karena bisa dipastikan  akan seadanya dan sekenanya.

Aku menyukai berinteraksi dengan para penerima tersebut. Beberapa orang yang pernah kutemui  bahkan mengaku sangat bahagia, jika kita datang tidak hanya untuk menyerahkan bantuan lalu pergi begitu saja. Dengan mengobrol sejenak, menanyakan kabar, mendengarkan ceritanya dan mendoakan kebaikan kepadanya pasti akan sangat berbeda rasanya dibanding hanya menyerahkan sebungkus plastik sembako di depan rumah.

Mencoba memahami mereka, menghormati hak mereka jika keberatan difoto yang menampilkan wajah mereka secara jelas. Tentu saja bisa diakali dengan mengambil foto dari samping atau saat menerima bingkisan dari tangan ke tangan. Kalaupun memang tidak bisa mengambil satu dua foto, tidak apa-apa. Tidak semua orang menolak kok. Banyak yang senang  difoto saat menerima bingkisan.

Ini akan membuat kegiatan berbagi kita tidak menyakiti mereka. Tidak merendahkan harga diri mereka hanya karena kita yang memberi kepada mereka. Sesungguhnya kita yang butuh mereka. Bayangkan saja jika tidak ada lagi orang yang menerima sedekah? Kemana kita akan memberikan sebagian harta kita yang memang wajib diberikan kepada orang lain?

Bonusnya, dengan berbagi tanpa menyakiti dan memberi dari hati akan membuat banjir doa kepada kita bahkan tanpa kita minta sekalipun. Dengan begitu, percaya deh, kalian akan ketagihan menjadi seorang relawan kegiatan sosial hahaha…

Saturday, November 21, 2020

SEBUAH AKHIR?

 

Hari ini hari terakhir posting setoran harian di One Day One Post. Hari ke 75. Ini rekor menulis setiap hari terlama yang pernah kulakukan secara rutin. Dulu pernah ikut 30 hari bercerita saja tidak lulus karena menyerah di tengah jalan. Padahal hanya menulis takarir di instagram saja. Bagaimana dengan yang satu ini aku bisa konsisten? Apa yang membuat ODOP berbeda?

1.       Lingkaran Pertemanan

Adanya grup WA memang sangat membantu saat semangat tak lagi membara atau jika buntu ide. Setiap pagi bisa blogwalking serasa membaca cerita-cerita seru untuk memulai hari. Di grup juga saling menyemangati, bahkan sering berbagi ide. Aku pernah bingung memutuskan mau nulis apa, dan teman-teman membantuku untuk mennetukan pilihan. Teman-teman satu angkatan yang secara rutin dikenalkan di sesi Satu Jam Lebih Dekat di ODOP ini adalah orang-orang yang hebat. Yang kemudian aku merasa, semua yang bertahan sampai akhir ini memang pastilah bukan orang biasa. Dari berbagai profesi, usia, domisili, semuanya punya keistimewaan sendiri-sendiri. Dan aku sungguh beruntung menjadi bagian dari mereka.

 

2.       Upgrade Ilmu

Tak terhitung berapa banyak ilmu yang kudapat dari ODOP ini. Tentang blog, tentang kepenulisan, penerbitan dan banyak lagi. Dan dengan menulis di ODOP ini aku jadi lebih peduli dengan referensi dan riset terlebih dulu sebelum menulis sesuatu. Dulu, mana pernah aku mikir tentang dua hal itu. Nulis ya nulis aja hahaha

 

3.       Writing For Healing

Tak bisa dipungkiri, konsisten menulis selama lebih dari dua bulan membantuku mengerti diriku, menyembuhkan beberapa kecewa dan luka, dan menghempaskan kegalauanku. Kebanyakan tulisanku selama 75 hari ini memang non fiksi. Sesuatu yang kalau tidak kualami sendiri, adalah hasil dari mengamati sekitar, kisah perjalanan dan mendengarkan cerita orang lain. Cerpen dan puisipun sebenarnya lebih banyak dari hasil kisah nyata mesikpun bukan semua dari ceritaku sendiri.

 

4.       Berani

Dulu, mana berani aku bikin status di WA tentang tulisan-tulisanku. Blogku ada yang baca syukur, nggak ada juga nggak apa-apa. Tapi sekarang, ada pranala blog walking setiap hari jadi setiap tulisan kita berpotensi untuk dibaca, dikomentasi, dan dikritik teman-teman satu grup. Jadi, kenapa tidak sekalian saja tunjukkan hasil karya ke orang-orang? Hei..aku juga punya pemabaca setia lho. Ada mbak Watik, mbak Ismi yang katanya suka membaca tulisanku. Iya, aku tahu mereka memang baiknya kelewatan jadi kupikir hanya ingin menyenangkanku saja. Tapi senang mengetahui ada yang membaca dan menyukai tulisan-tulisan sederhanaku.

 

5.       Antologi

Tahun ini, aku tidak berharap akan mempunyai buku antologi. Karena prioritas tahun ini sebenarnya bukan menulis sebelum kenal ODOP. Terakhir punya buku antologi ya tahun lalu di Yuk Main. Di ODOP, salah satu syarat kelulusannya adalah dengan menyetorkan naskah antologi, jadi mau tidak mau aku harus membuatnya.  Sampai aku mengetik tulisan ini, naskah antologiku belum selesai. Doakan semoga segera beres ya teman-teman.

 

Bagaimana selanjutnya? Apakah blog ini akan menjadi sarang laba-laba lagi setelah ini? AKu harap tidak. Karena aku jadi mempunyai target baru yaitu menyamai rekor jumlah postingan terbanyak di tahun 2014. Ini berarti, sampai akhir tahun nanti, seharusnya aku terus menulis setiap hari. Setelah kuhitung malah semestinya ada beberapa hari yang harus menulis dua postingan. Sanggup? Entahlah hahahha…Tapi kenapa tidak dicoba saja kaaan?

 

Akhirnya, selesai sudah perjuangan, perjalanan, dan pembelajaran awal di ODOP ini. Setelah ini sepertinya memang masih ada kelas lanjutan jika menginginkan. Tapi, untuk sekarang, aku ingin berterima kasih untuk diriku sendiri. You did it Lik. You did it well.

Untuk ODOP yang telah merubah hidup dan hari-hariku selama kurang lebih tiga bulan ini, Kalian keren!!! Terima kasiih..

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day75

Friday, November 20, 2020

PESANTREN RIYADHOH, TEMPAT MENYEMBUHKAN DIRI

Hari ini, tiba-tiba seorang teman bertanya suatu hal yang agak berbeda padaku. Dia bertanya “Bagaimana aku bisa move on setelah semua hal tidak menyenangkan yang kualami dalam hidupku beberapa tahun belakangan ini?”

Jawabanku adalah dengan berusaha. Tidak bisa hanya menunggu kita bisa lupa dan move on dengan sendirinya. Usahaku salah satunya dengan mengikuti Pesantren Riyadhoh. Aku sudah mendengar istilah riyadhoh itu bertahun-tahun lalu. Riyadhoh adalah melatih dan membiasakan diri untuk beribadah secara disiplin dan teratur. Menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan menghidupkan ibadah-ibadah sunnah. Dulu sempat mencoba mempraktekkan tapi selalu tidak bisa konsisten.

Bulan Mei tahun 2018, tidak sengaja mengetahui flyer Pesantren Riyadhoh ini di timeline Instagram. Ada dua kantor cabang Daarul Quran yang menyelenggarakan pesantren riyadhoh ini. Jakarta dan Malang. Dan entah mengapa, aku ingin sekali ikut. Satu hal yang jarang sekali kulakukan yaitu membuat keputusan harus pergi sejauh itu sendiri.

Mengajak seorang teman yang alhamdulillah juga bersemangat sekali, jadilah kami ke Malang. Berdua, tidak tahu sama sekali daerah sana. Nekad memang, tapi akhirnya kami pergi juga setelah menguras tabungan untuk biaya pesantren dan ongkos perjalanan.

Niatku waktu itu memang untuk mencari ketenangan dan kesembuhan diri. Karena sungguh, setahun itu teramat berat bagiku. Cerita tentang ini mungkin akan aku bagikan di postingan lain, jadi kali ini aku hanya akan bercerita tentang pesantren riyadhohnya saja. Sebelumnya, aku belum pernah mengikuti pesantren dan sejenisnya. Aku orang yang awam sekali soal pesantren, tidak  pernah ikut pengajian-pengajian, tapi tetap memutuskan untuk mengikuti pesantren riyadhoh.

Pesantren riyadhoh ini diadakan selama tiga hari dua malam. Selama ini kami para peserta dikarantina untuk belajar agama. Kami menginap di sebuah homestay yang nyaman di pinggiran Kota Malang.Tempatnya sepi, jauh dari keramaian dan di sebelah tempat kami menginap ada masjid yang bagus dan bikin betah di sana lama-lama.

Sepanjang hari tidak diperkenankan memegang hp, tapi berinteraksi khusus dengan Al Quran. Kami belajar berbagai macam materi dari guru-guru yang berbeda. Terdiri dari materi-materi seperti Kajian dhuha, tahajud, sedekah dan tauhid. Kami digembleng untuk terus berbaik sangka kepada Allah. Apapun masalahnya. Untuk kembali kepada Alllah ketika kita merasa semua jalan keluar masalah terasa buntu. Butuh sebuah pesantren riyadhoh untuk mengerti semua yang telah kualami selama ini. Untuk Ikhlas, untuk menerima, untuk memaafkan, untuk berlari ke pangkuan Allah lagi.

Karena semua masalah sesungguhnya terjadi karena dosa kita. Dosa kita yang sedemikian besar. Tapi Allah sungguh lebih sayang kita. Dengan dosa kita yang sebesar itu, Allah masih perhatikan kita dengan memberi kita masalah. Untuk mengingatkan kita. Agar kita kembali padanya.

Dibimbing oleh Ustadz Zali, Ustadz Teguh, Ustadz Muzili, yang semuanya memberiku ilmu baru yang menjadikanku menyadari betapa sedikitnya ilmu yang sudah kupelajari. Di sesi terakhir juga ada konseling bersama Ustadzah baik hati yang setiap kata-katanya menamparku dengan keras. Terutama soal percaya kepada manusia.

Di pesantren itu, kami sholat bersama para penghafal Quran dan belajar tahsin dari para penghafal Quran. Semuanya sungguh membuat hatiku bergetar. Ah, dulu aku selalu ingin agar Aca juga menjadi penghafal AlQuran juga. Lalu bagaimana denganku? Tidak inginkah aku juga menghafal AlQuran?YA Allah, aku ingiiiin sekali.

Pengalaman sholat tepat waktu berjamaah, dan berinteraksi dengan AlQuran tiga hari itu membuatku kuat. Aku bisa pulang dengan hati yang baru, jiwa yang baru, dengan membawa janji, bahwa apapun yang terjadi nanti, semenyakitkan apapun hal yang terjadi padaku, sebesar apapun hinaan orang kepadaku, aku akan tetap berbaik sangka kepada Allah.

Aku mengetik ini sambil menangis. Rindu saat-saat itu. Aku rindu ketenangan hati ketika di sepertiga malam kami semua bangun untuk sholat malam berjamaah. Mendengar lantunan surah AlQuran dari imam muda yang bacaannya bikin merinding. Aku tak berhenti berdoa semoga Aca bisa sepertinya, yang jadi imamku saat itu. Santri Daarul Quran. Salah satu penghafal AlQuran.

Pesantren Riyadhoh itu salah satu yang mengubah hidupku menjadi seperti sekarang. Yang ikut menyembuhkan luka-lukaku kala itu. Setiap orang pasti punya cerita dan masa lalu menyakitkan. Dan setiap orang juga punya caranya sendiri untuk move on  dan melanjutkan hidup. Ini caraku, bagaimana caramu?

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day74

Thursday, November 19, 2020

LITTLE THINGS I DO TO BOOST MY MOOD

Siapa yang tidak pernah mengalami bad mood? Semangat menghilang entah kemana, seharian uring-uringan tidak jelas dan semua rasanya sedang bersekongkol untuk membuatmu emosi. Yes, terkadang aku mengalaminya. Dan di bawah ini adalah beberapa cara yang kulakukan untuk mengatasi bad mood ini.

 

Prepare Your Day

Untukku, pagi hari adalah waktu yang paling menentukan untuk keseluruhan hariku. Jadi kuusahakan untuk mengisi waktu di oagi hari dengan baik agar hariku juga baik-baik saja. Olahraga, sarapan sehat, dan berdoa. Itulah kenapa ada dzikir pagi dan petang bagi yang beragama muslim. Di situ ada doa-doa agar kita dijaga dan dilindungi seharian itu. Dimudahkaan segala urusan dan dijauhkan dari kejahatan makhlukNya. Dan bacanya juga tidak sampai sepuluh menit lho. Coba deh. Sebuah cara sempurna untuk memulai hari.

 

Terima saja..

Akan ada seseorang dan sesuatu yang tidak menyukaimu. Ingin menyakitimu dan suka melihatmu jatuh. Tapi, bukankah menyenangkan kalau dia tidak mendapatkan apa yang dia mau. Terima saja. Tidak usah membuang energi dan waktu untuk membuat semua orang suka padamu. Terima saja mereka tapi jangan biarkan perlakuannya masuk ke hati, pikiran dan hisupmu, Terima dan abaikan saja. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Toh, bukan mereka yang membiayai hidupmu kaa? Hahaha.. Lakukan semua hal yang bisa membuat mood dan semangatmu kembali lagi.

 

Bahagia dalam Sekejap

Buat list apa saja yang bisa membuatmu bahagia secara sekejap. Untukku, cokelat dan es kirim dong..Jika mood sedang buruk, bisa mengingat kembali list yang dibuat dan buatlah diri sendiri bahagia.

 

Tambahkan Warna dalam Hidup

Setua apapun umurku nanti, aku ingin semangatku harus tetap ada. Untuk bermanfaat, untuk beribadah, untuk berbagi kebaikan. Dan semua itu tidak akan terjadi kalau mood kamu buruk. Tambahkan warna di hari-harimu. Kalau sedang tidak bersemangat, aku akan memilih baju warna merah untuk mengatrol semangatku hari itu. Hari mendung dan kelabu, itu tidak boleh menjadikan hatimu mendung juga kan? Kenapa tidak memakai baju warna cerah ceria dan menampilkan senyuman terbaikmu pada semua orang kamu temui. Trust me, it works!!

 

Bad mood memang wajar. Bisa terjadi pada siapa saja. Tapi selalu ingat bahwa jika kita bad mood terus-terusan, bisa jadi akan membuat pekerjaan kita berantakan dan  menyakiti orang-orang yang kita sayangi di sekitar kita. Jadi sebelum itu terjadi, jangan dibiarkan bad moodnya main lama-lama di hati yaa…

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day 73

Wednesday, November 18, 2020

KARENA PANDEMI

 


Mereka bilang, pandemi  membuat semua orang berbeda

Tapi apa kamu benar-benar tahu?

Sedangkan hidupmu sendiri

Masih baik-baik saja

 

Mereka bilang, pendemi membuat banyak orang menderita

Tapi apa kamu benar-benar membantu?

Sedangkan di sekelilingmu

Masih normal-normal saja

 

Hidupmu memang tidak berubah

Penghasilanmu memang masih sama

Pekerjaanmu memang selalu ada

Tak berkurang sedikitpun

 

Tapi hari ini kamu lihat

Gerobak jualan yang patah dan berkarat karena tidak pernah digunakan berjualan

Sepeda rusak yang terpaksa terus dikayuh meskipun harusnya diperbaiki

Karena uang yang didapat mereka tak pernah sama lagi seperti dulu

 

Karena pandemi..

 

(tulisan ini kubuat terinspirasi hari ini setelah bertemu orang-orang yang terkena dampak pandemi. Mereka menggantungkan hidup dari berjualan makanan di sekolah-sekolah. Pandemi membuat sekolah libur dan mereka tidak bisa lagi berjualan seperti biasa. Sedangkan, itu adalah satu-satunya sumber penghasilan mereka selama ini)

 

#OnedayOnePost

#ODOP

#Day72

Tuesday, November 17, 2020

MEMULAI BERKEBUN DI RUMAH (PART 1)

 


Di awal-awal pandemi dahulu, banyak sekali orang yang kemudian mempunyai hobi baru yaitu berkebun di rumah. Bisa jadi karena ikut tren, kembali menekui hobi lama yang sempat terlupakan, atau memang karena ingin tahu saja.

Aku mulai belajar berkebun di rumah ini sekitar dua tahun lalu karena pekerjaanku mengharuskan memberikan pendampingan dan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya menghijaukan lingkungan dengan tanaman dan pepohonan. Sebelum menyampaikan kepada orang lain, aku harus mulai melakukannnya dulu. Biar tidak dianggap hoax hahaha

Berkebun di rumah ini bisa diartikan menanam tanaman di sekitar rumah. Bisa di dalam atau di luar rumah. Tanaman inipun bisa bermacam-macam jenisnya, tergantung  tempat, selera, fungsi dan tujuan berkebun masing-masing orang.

Sebelum mulai berkebun, penting untuk menemukan Big Why nya kita. Karena hal inilah yang akan membuat kita konsisten berkebun. Karena berkebun tidak hanya membutuhkan waktu sehari dua hari atau seminggu dua minggu. Tapi jauh lebih lama dari itu. Butuh komitmen dan usaha yang konsisten. Karena bagaimanapun juga, tanaman adalah makhluk hidup yang perlu dijaga dan dirawat. Kalau kita sudah memutuskan untuk merawat sebuah tanaman di rumah, berarti kita juga bertanggung jawab atas hidup si tanaman tersebut.

Big Why memulai  berkebun di rumah. Mengapa memutuskan mulai berkebun di rumah? Berikut ini adalah beberapa jawaban yang dari pertanyaan yang kuajukan kepada teman-temanku :

1.       Ikut-ikutan.

Ketika lingkaran pertemanan tiba-tiba saja mempunyai topik baru yang dibicarakan tanpa henti yaitu tentang tanaman. Janjian pergi belanja tanaman bersama, sibuk belanja tanaman,pot dan printilannya di marketplace barengan biar menghemat ongkos kirim, tentu saja akan sulit untuk tidak ikut-ikutan. Dan ini tidak buruk kok. Tiap orang punya caranya masing-masing untuk menemukan jodohnya (jodoh dalam hal hobi tanaman lho hahahaha).

 

2.       Hobi Lama Bersemi Kembali

Ada seorang teman, yang dahulu suka sekali berkebun, tapi karena kesibukan kerja dan keluarga membuatnya melupakan hobi tersebut. Kini, ketika banyak orang yang mulai tertarik berkebun, dia seperti jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Orang seperti ini, malah banyak yang lebih tahu tentang tanaman karena dia punya pengalaman sendiri merawat tanaman.

 

3.       Punya Banyak Waktu Luang

Siapa yang pandemi ini jadi sering work from home? Naah, ada nih yang karena keseringan di rumah, jadi bingung mau ngapain. Dan berkebun adalah salah satu solusinya dalam memanfaatkan banyak waktu luang di rumah. Jadi nggak terlalu banyak bengong atau nggak akan bosen dengan pekerjaan daringnya.

 

Tiga Big Why itu yang paling sering dikatakan teman-teman dan orang-orang setiap kutanya mengapa memutuskan mulai berkebun di rumah. Memang ada jawaban lain, tapi kebanyakan memang menjawab tiga itu. Kalau teman-teman di sini, apa nih yang menyebabkan memutuskan untuk mulai berkebun di rumah?

Di postingan berikutnya, aku akan menulis tentang langkah-langkah mulai berkebun di rumah. Tentu saja dari hasil pengalaman dan trial errorku sendiri. Bukan dari referensi artikel-artikel kekinian. Tunggu part selanjutnya yaa..

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day71

 

Monday, November 16, 2020

YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN LAGI

 

Lia membuka satu demi satu lembar buku hariannya. Sampailah di salah satu halaman yang berjudul “Daftar yang Tidak Boleh Dilakukan Lagi Untuknya.” Lia menghela napas panjang. Ada 4 nomor di sana. Yang tiap nomornya berisi penjelasan yang meskipun singkat, ternyata masih membekas di hatinya. Perih…

Lia menulis daftar tersebut sejak hari pertama dia dekat dengan Ryan, lebih dari seorang sahabat. Sejak Ryan berkata bahwa dia mencintainya. Mereka saling mengenal sudah lama sekali. Satu sekolah sejak SMP. Lia adalah orang yang paling tahu dengan siapa saja Ryan berpacaran. Dan Ryan juga satu-satunya orang yang berani meledeknya setiap Lia mengaku menyukai seseorang.

Keika mereka sepertinya lelah berpetualang dengan orang lain, kemudian mereka menjadi dekat dan selalu bersama beberapa tahun belakangan ini. Jauh lebih dekat dibandingkan persahabatan SMP mereka. Mereka jatuh cinta satu sama lain. Setidaknya menurut Lia begitu.

Hingga kemudian, kedekatan mereka tidak menyenangkan lagi dibanding persahabatan masa kecil mereka. Sejak Lia mulai menulis daftar tersebut untuk Ryan. Daftar yang dimaksudkan Lia untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Karena setiap daftar tersebut, berarti pernah ada saat di mana hati Lia terluka teramat dalam, pernah ada ketakutan kalau Ryan memarahinya ,  pernah ada waktu ketika Lia khawatir kehilangan Ryan.

Daftar yang tidak boleh dilakukan Lia untuk Ryan adalah :

1.       Berhenti Membicarakan Masa Depan

Lia ingat sekali, dia sering bercerita tentang impiannya mempunyai sebuah rumah kecil dengan halaman luas agar dia bisa berkebun sepuasnya. Serta keinginannya mempunyai mobil warna silver untuk mengantarnya kemana-mana.  Bukan..bukan menuntut Ryan kekasihnya untuk mewujudkannya. Tapi hanya menceritakannya impiannya. Suatu ketika Ryan marah besar ketika Lia bersemangat bercerita kalau ia baru sajamelihat mobil persis yang dia inginkan lewat di depannya. Saat itu, Ryan membentaknya. Dia bilang Lia sangat kekanakan dan berlebihan hanya karena melihat mobil lewat.

Lia ingat sekali dia menangis lama saat itu. Kemudian dia menulis hal pertama itu di buku hariannya. Dia tidak ingin Ryan marah lagi. Dia tidak ingin Ryan membentaknya lagi.

 

2.       Berhenti Memperhatikannya

Saat itu, sehari semalam Ryan tidak bisa dihubungi. Ditelpon tidak diangkat, dikirimi pesan tidak dibaca. Lia sangat khawatir. Lia sampai tidak tidur semalaman hanay menunggu kabar Ryan. Sampai keesokan harinya, Ryan membalas pesannya dan bilang kalau dia sedang tidak enak badan dan tidur seharian. Lia membalas pesannya dengan satu kalimat “Aku khawatir”  dengan mengirim emoticon  menangis dan tiba-tiba Ryan membalas dengan “Tidak usah  berlebihan. Pake nangis segala!!”

Lia pun terdiam seketika. Tidak meneruskan membalas pesan tersebut lagi. Menangis dalam diam. Dan kembali menulis satu nomor lagi di daftar itu.

Dia tidak mau Ryan marah lagi padanya. Jadi Lia harus belajar untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai Ryan.

 

3.       Berhenti Minta tolong

Suatu hari, Lia kesulitan dengan laptopnya yang rusak saat dia sedang sibuk menulis skripsi. Dia bertanya kepada Ryan apakah bisa membantunya.  Ryan pun menyusulnya di perpustakaan tempat Lia mengerjakan tugas. Dan, sungguh di luar dugaan, Ryan datang dengan wajah kesal, bertanya ketus “Ada apa? Gitu aja kok tidak bisa” di hadapan sahabat-sahabatnya. Lia merah padam menahan sakit hati, malu dan kecewa dengan perlakuan Ryan kepadanya. Sejak saat itu, bagaimanapun buruknya keadaanya, Lia lebih memilih diam daripada meminta bantuan Ryan. Lia takut Ryan marah lagi kepadanya. Lia takut kelihatan teramat bodoh di hadapan Ryan. Bertambah lagi daftar itu..

 

4.       Jangan Mengeluh

Pernah Lia menangis karena sedang teramat lelah dengan kuliah dan pekerjaan paruh waktunya, Dia bercerita kepada Ryan hanya agar didengarkan sehingga bisa sedikit mengurangi lelahnya. Tapi lagi-lagi…Ryan menjawabnya dengan panjang  lebar yang malah membuat Lia semakin merasa tidak berguna. Ryan menyalahkan Lia yang tidak bisa mengatur waktu, bahwa harusnya tidak mengeluh dan rajin bekerja. Sudahlaah…

 

Hari ini tepat satu bulan Lia kehilangan kontak dengan Ryan setelah pertengkaran mereka . Masalah sepele bagi Ryan tapi teramat penting bagi Lia ketika Ryan mengatakan sesuatu yang sangat menyakiti perasaannya. Sampai kemudian Lia memilih pergi begitu saja dari hadapan Ryan dan tidak menghubunginya lagi. Ryan tidak peduli. Meminta maafpun tidak!

Lia membaca semua daftar yang tidak boleh dia lakukan kepada Ryan lagi. Hingga kemudian dia sada, semua kalimat di sana, semua daftar itu, hanya semakin memberitahunya bahwa Ryan tidak pernah menganggapnya penting. Lia bukan orang yang harus dijaga perasannya. Lia bukan orang yang menjadi prioritasnya.

Dan kini  Lia baru menyadari hal itu. Ketika membaca daftar itu..Lia menyobek lembaran kertas tersebut dan membakarnya. Satu bulan yang sudah cukup membuat Lia menyadari, bahwa Ryan memang tidak pernah peduli padanya. Sejak dulu…

 

#OnedayOnePost

#ODOP

#Day70

Sunday, November 15, 2020

INSECURE GARA-GARA KATA ORANG?

 

Insecure Gara-gara kata orang? Yuk mengubah insecure menjadi bersyukur.

Resume Kajian Online bersama Ustadz. Hilman Fauzi

Hari / Tanggal : Selasa/ 10 Nopember 2020

Penyelenggara : @terangjakarta

 

 Siapa yang pernah mengalami Insecure? Kalau bertanya padaku, aku akan menjawabnya tanpa pikir panjang. Iya, aku sering mengalami insecure. Ada banyak hal yang menyebabkan aku insecure pada diriku sendiri. Itulah kenapa, saat aku melihat flyer kajian online yang ada judul insecurenya, aku langsung tertarik ikutan. Apalagi ditambah ada ustadz Hilman Fauzi yang menyampaikan kajian. Makin semangat belajar dong akunya hahaha. Belajar bareng aku juga yuk.  Ini kutuliskan resumenya ya..

Pernah  merasa tidak aman/tidak percaya diri, menganggap diri lebih rendah/buruk dari orang lain? Suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain, haus akan pengakuan/pujian dari orang lain? atau lebih fokus pada kekurangan diri dibanding memaksimalkan potensi yang dimiliki? Kalau satu saja dari semua pertanyaan itu ada pada kita, berarti kita sudah mengalami insecure.

Insecure ini bisa karena bentuk tubuh, warna kulit, jodoh, pekerjaan, materi, atau yang lain. Dan tiap orang mempunyai tingkat dan penyebab insecure yang berbeda pula.  Setelahnya kita akan belajar bagaimana agar kita tidak insecure lagi. Caranya adalah :

1.       Menerima keadaan diri sendiri

Berdamai dengan segala kekurangan dan kelebihan diri. Di QS. Ar-Rum:22 disebutkan bahwa semua sudah diatur dengan sebaik mungkin oleh Allah.

Jika kita sudah mampu berdamai dengan segala kekurangan yang ada dalam diri, maka perkataan buruk dari orang lain tidak akan berarti apa-apa. Dengan menerima keadaan diri sendir, ini berarti kita ridha atas ketentuan Allah. Ridha adalah suatu kondisi untuk menerima dan melapangkan hati untuk selalu berprasangka baik atas semua yang diperoleh dan berusaha mengambil hikmah terbaik untuk bisa semakin dekat kepada Allah.

 

Jika kamu merasa insecure melihat teman-temanmu sudah menikah sementara kamu belum, bisa jadi hikmahnya adalah kamu sedang diberi kesempatan untuk lebh banyak belajar dan mempersiapkan diri, atau kamu jadi bisa meluangkan lebih banyak waktu dan kebaikan untuk orang tuamu. Terima saja, lapangkan hatimu!

 

2.       Sempurnakan Ikhtiarmu

Hidup ini sudah didesain oleh Allah dengan sempurna. Maka, sempurnakan penerimaanmu, sempurnakan sudut pandangmu, sempurnakan ikhtiarmu agar selaras dengan sudut pandang-Nya. Bagaimana menyempurnakan ikhtiar yang benar? Dengan membantu orang lain, menyebarkan kebaikan, memaafkan orang lain, memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah kita.

 

3.       Tidak Sibuk Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Bentuk rupa dan jalan hidup masing-masing orang sudah diatur oleh Allah. Yakinkan diri bahwa kita memiliki nilai lebih dan unik. Lihat kelebihan orang lain hanya sebagai motivasi, bukan malah menjadikan tidak percaya diri. Pahami juga bahwa Allah akan menilai manusia berdasarkan keimanan dan ketakwaannya, bukan karena bentuk tubuhnya, hartanya, jabatannya.

 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-menegnal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat : 13)

 

4.       Perbanyak Bersyukur atas Nikmat yang Diberikan Allah

Bagaimana cara melatih rasa syukur kita:

Mengakui dan menyadari bahwa Allah telah memberikan kita banyak nikmat.

Menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah daripada masalah yang sedang dihadapi.

Jangan gelisah dengan apa yang belum dimiliki sehingga lupa dengan apa yang telah diberi

Menyibukkan diri dalam ketaatan kepada Allah.

 

Yang terakhir adalah, semua ada waktunya. Jangan sibuk membandingkan hidup kita dengan orang lain. Tidak ada perbandingan antara matahari dan bulan. Mereka bersinar saat waktunya tiba.

 

Penutup :

“Jika kamu sedang berada di jalan kebaikan, jangan sibuk mendengarkan ucapan atau komentar orang lain, karena setiap orang akan melihatmu dari sudut pandang yang berbedabeda”

 

Semoga resume kajian kali ini, bisa membuatku sedikit demi sedikit membuang insecure yang bersemayam di diri. Bagaimanapun juga insecure membuat kita terhalang untuk melakukan banyak kebaikan yang seharusnya bisa kita lakukan.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day69

Share