Sederhana yang Istimewa

Kalau biasanya para istri atau ibu yang berbelanja ke pasar,  hal itu tidak berlaku di rumah ini. Meskipun sebenarnya, tidak ada juga sih aturan  kalau belanja itu urusan wanita. Nah, si Bapak ini yang menormalisasi kalau belanja ke pasar (dan juga beberapa hal lain) juga bisa dilakukan lelaki. Bukan sebuah hal yang luar biasa.

Yang terjadi di rumah kami sebenarnya sederhana. Awalnya  aku yang berbelanja ke pasar. Tapi sejak hamil besar dan melahirkan, si Bapak yang mengambil alih kegiatan itu.  Kami memang belanja satu pekan sekal untuk bahan memasak setiap hari, jadi cukup banyak yang harus dibeli. Tugasku,  membereskan dan membersihkan hasil belanjaan, menatanya ke dalam kulkas, mengatur menu mingguan, yang juga membutuhkan waktu lama. Dengan berbagi peran seperti ini, cukup efektif menurut kami.

Meskipun seharusnya normal dan biasa, tak bisa dipungkiri, bagi banyak keluarga, hal tersebut sulit dilakukan. Tentu saja tidak masalah, setiap keluarga mempunyai kebiasaannya masing-masing. Tapi tetap saja, aku merasa terbantu sekali. Tidak terbayang kalau belanja, nge food prep, serta memasak kulakukan sendiri sambil menjaga bayi, aku sungguh tidak sangguo hahaha..Urusan detail belanjapun,  aku tidak banyak berperan. Kubebaskan membeli sayur atau protein apapun. Apalagi sejak Aruna mulai mpasi, si Bapak yang benar-benar memperhatikan rotasi protein hewani yang dikonsumsi anaknya. Beliau bahkan punya langganan ikan dan sayuran segar di pasar.. Hal inilah yang membuat Aruna bisa mencicipi 100 jenis bahan makanan sebelum usianya satu tahun. Bapaknya mengusahakan yang terbaik dan variarif setiap belanja.

Satu hal yang kusukai adalah, selalu ada cerita seru setiap beliau pulang dari pasar. Biasanya, sambil aku membersihkan ikan, kami akan ngobrol berdua di dapur. Beliau akan cerita kejadian-kejadian lucu selama di pasar. Cerita tentang mbah penjual pisang yang sering memberi bonus, penjual sayur yang mengangkatnya saudara, atau cerita tentang daging yang ketinggalan di kios pedangang lain. Ini menjadi our time yang kutunggu setiap pekan.

Sampai sekarang, urusan belanja di pasar, masih dipegang si Bapak. Bahkan sering, aku meminta tolong dibelikan bumbu yang habis sepulang kerja, beliau tidak keberataan mampir  ke pasar, bahkan masih memakai seragam. Itu menjadi salah satu hal yang tetap kusyukuri sampai hari ini, memilikinya sebagai kepala keluarga kami. Bersedia melakukan hal-hal  sederhana, tapi tidak semua orang bisa. Terima kasih untuk mengusahakan banyak meski kutahu berat. Terima kasih untuk momen-momen kecil yang selalu istimewa. Terima kasih...

Post a Comment

0 Comments