Friday, September 25, 2020

SI KAPTEN MARVEL

 


Beberapa hari yang lalu, aku dipaksanya menceritakan sesuatu tentang dia. Males banget nggak sih? Dia yang bisa nulis, aku yang disuruh cerita. Katanya untuk tugas One Day One Post atau apalah itu. Laah, kenapa nggak nulis sendiri cobaa??

Tapi karena dia ribut terus, menggangguku setiap hari, baiklah! Akan kuceritakan yang kutahu tentangnya di sini. Eeeh, dia memang nyebelin, masih saja pesan kalau ceritanya yang baik-baik saja. Yaelaah…berisik amat!. Tapi siapapun yang membaca tulisan ini, awas saja kalau protes tentang ejaan atau alur atau semacamnya. Aku sudah cukup punya satu teman yang selalu ribut soal di dipisah atau di disambung setiap hari. Ini tulisanku, Jadi baca saja oke? Nggak usah protes.

Tapi sebentaar…kalau aku harus cerita tentangnya, akan lumayan susah juga. Dia bukan orang yang terbuka. Sejak kecil  dia itu pendiam sekali. Makanya kami cocok, dia akan betah mendengarku bercerita sepanjang hari. Yaah..meskipun ternyata dia ketahuan tidur sih saat aku cerita. Tapi dia selalu sabar mendengarku kok.

Oke oke, aku mulai. Namanya Lilik. Aku mengenalnya sejak kecil. Bisa dibilang kami tumbuh bersama. Tahu nggak apa panggilan kami untuknya? Kapten Marvel. Bagi kami, teman-temannya,  dia adalah seorang pejuang.

Sejak kecil Lilik memang suka menulis. Sangat jauh berbeda denganku. Dialah yang kuandalkan setiap ada tugas mengarang. Aku tidak perlu repot-repot berpikir keras untuk membuat karangan tugas bahasa Indonesia. Eh tapii, Lilik juga nyebelin banget sih. Pernah nih ya, waktu kelas 5 SD, dia membuat satu kelas dihukum karena cuma dia yang bisa mengerjakan tugas membuat puisi dalam waktu tiga puluh puluh menit. Samaan tidak usah mengerjakan kenapa? Lagian susah bener itu tugasnya. Semua temannya dihukum sedangkan dia tidak kan nyebelin banget. Siangnya, ada seseorang yang membuat ban sepedanya bocor, tahu rasa dia pulang sekolah jalan kaki! hahaha

Aku juga yang memaksanya mengirimkan tulisannya ke majalah dan koran.  Beberapa kali dimuat di majalah anak-anak. Kalau tidak salah, waktu itu honornya seratus ribu dan harus diambil di kantor pos. Aku mendapat traktiran bakso gratis setiap kali tulisannya dimuat. Makanya waktu dia memberiku lima buah buku antologi yang berisi tulisan-tulisannnya, aku tidak terkejut. Tulisan-tulisan sederhananya  bisa menyentuh hati banyak orang.  Tapi ya itu tadi, dia nyebelin kalau sudah punya ide tulisan. Bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Susah diajak main.

Lilik seorang pekerja keras. Dia biayai kuliahnya sendiri dengan bekerja sambilan semenjak lulus SMA. Dia orang yang gigih jika menginginkan sesuatu. Pernah suatu ketika kami ingin membeli suatu barang yang harganya mahal, dia rela tidak jajan sebulan. Kalau aku, mana kuat seperti itu.

Kami berpisah sejak lulus kuliah. Aku harus pindah ke kota lain. Tapi karena lingkaran pertemanannya gitu-gitu aja, kami tetap berhubungan baik. Meskipun kemudian baru kutahu, sepuluh tahun belakangan ini, ternyata hidupnya tidak sebaik seperti yang selalu dia katakan setiap aku menanyakan kabarnya.

Dia mengalami saat-saat yang berat. Saat orang yang seharusnya menjaga dan melindunginya malah menyakitinya sedemikian rupa. Berbagai macam makian, hujatan, dan ancaman  pernah dia dapatkan setiap harinya. Dia hampir menyerah saat itu. Bahkan ceritanya belakakangan ini, dia sampai mengunjungi psikolog di rumah sakit sendirian agar bisa mendapatkan bantuan. Tidak ada keluarga ataupun sahabatnya yang tahu saat itu. Lilik ini, tidak pernah mau merepotkan orang. Tidak ingin menyusahkan orang-orang yang disayanginya.  Ah, aku sungguh menyesal tidak ada di sampingnya ketika dia harus melewati saat-saat itu.

Kami bertemu lagi  tiga tahun lalu. Bodohnya aku, pertemuan- pertemuan kami melulu hanya tentang ceritaku. Segala remeh temeh masalahku. Yang galau antara membeli rumah atau membuka toko, yang bingung memutuskan antara mau masak salmon atau lele goreng saus mayonais, dan semacamnya. Sampai akhirnya dia cerita semuanya. Duh, aku malu sekali telah mebebaninya dengan masalah tidak pentingku, padahal dia punya masalah yang jauuuh lebih besar

Tunggu-tunggu! Tidak jadi masalah  yang terlalu besar baginya ternyata. Aku salah. Lilik menceritakannya memang sambil menangis. Kadang kala dia terisak, berhenti, lalu kembali bercerita. Tapi bukan lemah. Dialah Kapten Marvel. Dia bisa melewatinya dan semakin kuat setiap harinya.

Dia masih seorang pendengar yang baik bagi teman-temannya, selalu ada saat sahabat-sahabatnya membutuhkannya. Dan yang tidak habis pikir, dia masih suka saja direpotkan dengan urusan orang-orang asing. Tiba-tiba suatu ketika bilang padaku bahwa dia sedang berada di Yogyakarta untuk mengajar anak-anak SD selama satu hari, padahal sebelumnya dia cerita sedang pusing karena harus mengawal audit di kantornya. Lhah, kenapa malah main ke Yogyakarta cobaa?? Atau sering sekali dia itu bikin acara sosial, menggalang dana, pergi ke rumah orang-orang jompo, atau kegiatan lain yang aku sampai lupa saking banyaknya. Menjadi relawan di komunitas sosial, memberi les gratis ke anak-anak yatim, selalu siap membantu kapanpun dibutuhkan. Ada saja energinya untuk melakukan semua itu.

“Ayo ikut aku!” Lilik mengajakku ke sebuah taman  saat dia selesai bercerita padaku sambil menangis. Di sana, ada belasan anak-anak yang berteriak kegirangan menyambutnya. Tiba-tiba sama dia menjelma menjadi si Kapten Marvel kesayangan anak-anak. Sebentar saja dia sudah larut dalam keriuhan itu. Membacakan buku, membuat kerajinan tangan, tertawa dan gembira bersama mereka. Aku takjub melihat begitu cepatnya Lilik menghapus air matanya  menjadi tawa. 

Tapi satu jam kemudian, setelah semua anak pulang dan dia mulai merapikan barang-barang, aku melihatnya. Sisi lain temanku ini. Lilik menghela napas panjang sesekali. Aku terpaku. Aku  lihat ada kesedihan di sana. Ada luka yang belum sembuh. Ada kehilangan yang masih menyakitkannya. Tapi dia sempurna menutupinya di depan semua orang.

Aku memeluknya dan kami kemudian tertawa lagi. Setidaknya kini aku tahu Lilik akan baik-baik saja. Dia bersama orang-orang baik di sekelilingnya, Yang memberinya kesempatan untuk menemukan bahagianya. Kebahagiaannya adalah ketika dia bisa berbagi dengan banyak orang. Apa yang dia dapat? Bukankah itu hanya menghabiskan waktu, uang dan tenaganya? Dia sudah kelelahan sepanjang hari dan masih berbuat ini itu untuk orang lain. Tapi satu jawababnya yang membuatku terdiam lama  Aku ingin jika aku meninggal nanti, setidaknya ada satu orang yang bersaksi bahwa aku orang baik. Jadi biarlah aku  belajar jadi orang baik terus setiap harinya”.

 Catatan : Semacam fiksi mini.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPChallenge3

1 comment:

Share