Wednesday, January 13, 2021

2020 RECAP

 

Assalamualaikum. Hai semuanyaaaa…

Aku kembali di rumah kesayangan ini hahaha..Maafkan sempat menghilang lama. Ada beberapa amanah yang harus kuselesaikan dulu selama beberapa waktu. Dan sekarang, InsyaAllah aku akan rajin menulis di sini kembali. Doakan lancar yaa

Nah, pertama, aku ingin menulis tentang 2020 recap. Waah, sudah tahun baru kan ya. Bukankah waktu sedemikian cepat berlalu? 


 

Sebelumnya, akan kubagikan satu foto yang ada di vision board tahun 2020 yang kupasang di dinding kamar. Ini adalah semacam doa atau afirmasi yang terus menerus kulihat setiap hari sepanjang tahun. Vision board ini kubuat di awal tahun 2020 lalu. Dan saat aku melepaskannya dari dinding untuk menggantinya dengan yang baru, aku terpaku melihat betapa semuanya yang kutuliskan di situ telah terwujud.

1.       Bertemu dengan banyak orang baik.

Aku menghitung orang-orang baru yang kukenal dan yang bersikap sangat baik padaku. Bahkan kesepuluh jari tangankupun tidak cukup saat kuhitung satu demi satu orang baru dalam hidupku yang telah begitu baik kepadaku. Alhamdulillah.

 

2.       Dijauhkan dari orang-orang yang tidak baik.

Bagaimanapun juga, aku tahu pasti ada alasannya Allah membuatku harus dipindah tempat bekerja di kota lain. Mungkin inilah maksudnya kan? Dijauhkan dari orang-orang yang tidak baik untukku dan hidupku.

 

3.       Belajar banyak hal baru

Satu tahun kemarin, luar biasa pelajaran yang aku dapat. Mulai dari pelajaran menulis, speech public, mental health, dan beberapa hal baru yang kupelajari seperti presentasi, editing gambar ataupun video. Yes, I did it well.

 

4.       Menjelajahi banyak tempat baru

Sejujurnya, tidak pernah terpikir dalam otakku, bahwa saat aku menulis “menjelajahi” di sini adalah berarti aku akan dipindah tugaskan ke kota lain yang benar-benar asing bagiku. Meskipun hanya di kota sebelah, tapi tetap saja aku tidak punya pengalaman sama sekali menjelajahi desa-desa di sana yang harus kudampingi. Allah benar-benar mengabulkan doaku. 100 %. Hari-hari saat aku berkeliling desa-desa yang asing bagiku, kesasar, mengandalkan gps dan maps yang sering nggak tepat, bertanya ke orang lain yang malah membuatku semakin kebingungan, dan banyak kisah “menjelajahi tempat baru”. Bukankah seru sekali? Bangettt..!

 

5.       More Smile Less Cry

Dibanding tahun 2019, aku tahu aku lebih sedikit menangis. Alhamdulillah. Luka yang dulu mulai terbiasa kurasakan. Banyak orang-orang yang memberiku alasan untuk tersenyum lebih banyak dan bersyukur lebih besar dari sebelumnya. Menangis? Tentu saja masih. Ada saat-saat seperti aku menangis sepanjang perjalanan pulang kerja, sesenggukan saat membaca Al Quran dan di malam-malam ketika bersujud. Tapi, hatiku  sudah jauh lebih baik sekarang.

 

 

Tahun 2020ku diwakili oleh 3 foto ini :


 

1.       Ini adalah basecamp kota tempatku bekerja.

Sampai sekarangpun aku masih takjub bagaimana aku bisa dipindahkan di kota ini. Belasan tahun bekerja di kota sendiri, yang dekat dengan rumah, yang bisa pulang dan pergi kapan saja, dan tiba-tiba tahun 2020 semuanya berubah total. Banyak perubahan, membutuhkan ekstra tenaga, pikiran dan materi tentu saja. Tapi ajaibnya, I love it. Aku menikmatinya. Aku menyukai sudut-sudut desa dampinganku, orang-orang baik di sana, dan teman-teman yang membantuku bahkan tanpa kuminta. It’s more than enough. Aku sangaaaat bersyukur.

 

 


2.       Aca

My reason. Alasanku bertahan dan tetap kuat bahkan di saat aku sendiri merasa tidak sanggup  untuk sekadar berdiri.  Yang dulu adalah  kelemahanku tapi kini kujadikan sumber utama kekuatanku untuk terus berjuang membuat Allah ridho padaku. Yang makin kusadari, bahwa apapun yang terjadi, aku hanya harus percaya bahwa Allah selalu punya rencana terbaik untukku. Bahwa aku hanya terus memberi contoh terbaik baginya untuk mencintai, berbagi, berkarya, dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Karena lihatlah, dia tumbuh semakin besar, akan segera mempunyai kehidupan sendiri, dan hanya kebaikan-kebaikanlah yang semoga bisa selalu menjaganya bahkan saat aku tidak ada lagi di dunia ini.

 


3.       Bapak

Akhir tahun kemarin, Allah sangat baik padaku dan membuatku bisa ke makam bapak tepat di hari ulang tahunku.  Dua tahun sudah meninggalnya beliau. Dan saat itu, di makamnya, aku meminta maaf. Maaf untuk masih sering menangis, dan maaf untuk sebuah nama yang kini telah kuikhlaskan untuk kulepaskan. Nama yang kubisikkan padanya di hari-hari terakhirnya. Maaf telah mengecewakanmu Pak.

 

Selebihnya, tahun 2020 adalah tentang pandemi  hehehe.. Eh, Tahun 2020 juga membahagiakan bagi kami sekeluarga. Ada pernikahannya Tante Anik, berarti bertambah lagi satu keluarga baru dan banyak perubahan karenanya.

 

Dua kata untukku di tahun 2020 adalah BELAJAR MENERIMA. Belajar menerima perubahan-perubahan, menerima kenyataan menyakitkan, menerima bahwa  aku memang belum layak untuk diperjuangkan dan harus berjuang lebih keras lagi untuk hidup kami sendiri.Tapi kami juga menerima begitu banyak hal baik yang bisa disyukuri.

 

Tahun 2020 menjadikanku semakin kuat. Menjadikan kita semakin kuat juga kan? Dan tahun ini, sudah saatnya bagiku bangkit. Setelah belajar menerima dan mengikhlaskan semua yang terjadi, tahun ini, waktuku melangkah lagi. Memperbaiki diri dari hari ke hari. Salah satu harapanku adalah tidak hanya dikelilingi orang-orang baik, tapi juga bersama dengan orang-orang yang menemaniku tumbuh. Yang lainnya, akan ada di vision board 2021 doong hahaha..

 

Terakhir, berjuta syukur di tahun 2020 yang telah terlewati. Semua hal yang menyenangkan dan menyakitkan hanyalah sebuah pertanda bahwa Allah sangat baik padaku. Selalu. Jadi, mari siapkan diri untuk syukur dan sabar di tahun 2021. InsyaAllah akan menyenangkan dan penuh dengan kebaikan. Aamiin.

 

Bismillah untuk 2021!!

Monday, December 14, 2020

GABIN TAPE

 


Dulu pernah ada yang request resep gabin tape kan? Maafkan baru bisa bikin kemarin pas agak luang waktunya. Padahal sebenarnya membuat gabin tape itu sangat gampang sekali. Sambil merem juga bisa hahaha..

Jadi kalau di rumah ada tape bisa nih dibikin gabin tape seperti ini. Tinggal beli gabin crckernya aja. Mari kita mulaiii..

Bahan :

10 keping gabin crackers

200 gr tape singkong

1 sachet susu kental manis putih

1 sdm tepung terigu

Cokelat masak secukupnya, serut kasar

 

Cara Membuat :

Haluskan tape dan buang sumbunya

Tambahkan susu kental manis dan tepung terigu. Aduk rata.

Ambil satu buah gabin, beri adonan tape, beri serutan cokelat masak, tutup dengan gabin

Rekatkan dan rapikan pinggirnya.

Goreng dalam minyak yang sudah panas dan dengan api sedang hingga kecokelatan.

 

Tips :

Kalau tapenya kurang manis, boleh ditambah gula pasir

Goreng dengan minyak yang sudah panas. Balik sekali saja agar tidak menyerap terlalu banyak minyak dan gabin tetap crispy.

 

Selamat mencobaaa..

HUJAN

 


Dari yang katanya mengingatkan pada kenangan

Atau seribu hal romantis yang menyertainya

Engkau tidak bisa mengaturnya meskipun ingin

Hujan datang jika sudah waktunya tiba

Tanpa diminta, tanpa dicegah

 

Hujan bagiku hanyalah sebuah episode keseharian

Yang berarti membuat celana dan sepatu basah seharian

Yang memaksamu tetap harus keluar mesikupun sangat nyaman bergelung di selimut tebal

Hujan menandakan bahwa ada hal yang harus dilawan

Seperti kemalasan dan kenyamanan yang melenakan

 

Hujan bagi beberapa orang adalah bahagia

Dan bagi beberapa yang lain adalah derita

Tapi hujanpun berkata dia tidak akan terus ada

Akan segera berganti terang, pelangi atau limpahan cahaya

Tidak akan selamanya..

Thursday, December 10, 2020

SIAPA MEREKA?

 


Aku melihat mereka setiap hari. Seringnya setiap aku pulang kerja. Entah siang atau sore hari. Selalu di tempat yang sama. Seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan, dan seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun.

Pertama kali melihat mereka, wanita itu (anggap saja itu ibunya) sedang duduk di trotoar yang tidak pernah dilewati orang. Trotoar itu terputus di tengah jalan yang menghubungkan rumah-rumah dan persawahan, jadi memang kecil kemungkinan ada orang yang akan melewatinya.

Saat itu aku belum melihat si anak. Di samping ibu itu ada dua bungkus plastik kecil dan satu buah payung. Kupikir, dia itu pengemis atau pemulung yang sedang beristirahat di jalan. Atau mungkin juga orang gila. Besoknya, ketika aku melewati jalan itu lagi, dia berada di sana. Bersama seorang anak perempuan.

Seorang gadis kecil  kulihat sedang bermain boneka  di sebelah wanita itu yang kemudian aku pikir mereka adalah sepasang ibu dan anak. Sayangnya, aku tidak memperhatikan ibunya sedang berbuat apa. Aku naik  motor. Jadi hanya bisa melihat sambil lalu saja.

Lain hari, aku melihat si gadis kecil menulis di sebuah buku tulis. Sambil bernyanyi sepertinya. Wajahnya terlihat riang. Ibunya seperti biasa sedang duduk di sebelahnya. Siang itu panas, jadi mereka membuka payung, duduk di bawah payung itu, berdua.

Hari ini, aku pulang petang. Hujan turun sejak beberapa hari yang lalu. Dan aku sama sekali tidak menduga kalau mereka berdua masih ada di tempat biasa. Kali ini, aku melihat mereka, masih berteduh di satu buah payung besar yang kelihatan sudah kumal. Si gadis kecil sedang berbaring di pangkuan ibunya. Mereka sepertinya sedang mengobrol sambil sesekali tertawa.

Di tengah hujan, yang meskipun tidak terlalu deras saat itu, mereka kelihatan baik-baik saja. Tapi aku yakin pastilah mereka kedinginan sepertiku yang ingin bisa cepat-cepat pulang. Satu payung untuk berdua pastilah tidak cukup melindungi tubuh mereka. Apalagi mereka hanya duduk di trotoar di pinggir jalan.

Aku selalu membayangkan banyak hal setiap melihat mereka. Bertanya-tanya siapa mereka, apa yang membuat mereka setiap hari ada di sana, apa yang mereka lakukan di sana, dan apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantu mereka?

Tapi aku juga masih belum punya kesempatan dan keberanian untuk menepikan motor lalu menyapa mereka. Satu hal yang harusnya kulakukan terlebih dahulu sebelum membantu atau mencari tahu apa yang terjadi dengan mereka. Menyapa mereka. Semoga semesta segera memberiku kesempatan, dan terutama keberanian itu.

Wednesday, December 9, 2020

CERITA-CERITA KEBAIKAN DALAM KEDAI SEDEKAH

 


Sesuai janjiku dulu, aku akan bercerita tentang kedai sedekah yang kami adakan bulan nopember kemarin. Kedai sedekah yang istimewa, karena ada yang tidak biasa dibanding sebelumnya.

Biasanya di setiap kedai sedekah, ada support dana dari kantor Yatim Mandiri. Ini adalah dana dari pusat yang memang harus dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Biasanya sebelum adanya pandemi, setiap bulan, ada kegiatan yang namanya Kesehatan Keliling.  Kami mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis untuk anak-anak yatim dan dhuafa serta pemberian paket gizi dan sembako,

Adanya pandemi membuat kesling ditiadakan tidak boleh  mengumpulkan orang dalam satu tempat. Sebagai gantinya adalah kegiatan pembagian sembako bagi warga yang terdampak covid, pembagian APD dan kedai sedekah misalnya.

Terhitung, sudah tiga kali kami mengadakan kedai sedekah. Kedai sedekah yang pertama dan kedua masih disupport dana kantor, sedangkan yang terakhr, kami menggalang dana secara mandiri karena alokasi dananya digunakan untuk pembagian beras kepada warga yatim dhuafa.

Kedai sedekah dengan menggalang dana mandiri? Bagaimana bisa? Setidaknya butuh 800 ribu untuk menyiapkan makanan untuk 80 orang, target kami setiap kalinya. Kami akhirnya membuka penggalangan dana melalui  status WA, sosial media, dan bujukan demi bujukan ke teman-teman serta keluarga.

Meskipun kedai sedekah nopember memang tidak wajib kami lakukan, tapi mengingat perjalanan kedai sedekah sebelumnya, kami merasa sayang untuk ditiadakan.  Apalagi aku selalu suka melihat semua orang yang makan di kedai kami, melihat mata berbinar mereka yang bahagia ketika menerima bungkusan nasi yang kami siapkan untuk keluarga di rumah.

Dalam waktu satu minggu, akhirnya kami bisa mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk mengadakan kedai sedekah. Dan di luar dugaan, selain uang,  banyak yang memberikan donasi berupa makanan Sesuatu yang lagi-lagi menjadi kejutan untuk kami.

Ada yang berdonasi pisang satu tandan, kerupuk, makanan ringan yang  banyak sekali, gorengan serta teh hangat yang cukup untuk semua pengunjung dan relawan. Alhamdulillaah. Banyak orang-orang baik di sekitar kami.


 

Kedai sedekah kamipun menjadi lebih meriah. Kalau biasanya di atas tikar tidak ada apa-apanya yang bisa disuguhkan kepada pengunjung sambil menunggu makanannya kami siapkan, sekarang ada beragam cemilan di piring. Lebih bahagia lagi kalau ada yang bersedia membawanya pulang untuk diberikan kepada anak-anaknya di rumah. Lagi-lagi aku terharu..

Hal-hal yang bagi orang lain sepele. Bagi orang lain membeli sebungkus kerupuk untuk diri sendiri sangat mudah dilakukan setiap hari. Tapi ini, ada yang kepikiran untuk memberikannya kepada orang lain agar mereka lebih nikmat makan ditemani kerupuk. Bukankan itu sangat manis?

Seperti sedari awal aku membayangkan kedai sedekah ini nantinya. Aku selalu ingin, agar kedai sedekah kami, menjadi tempat istirahat dan makan yang sangat layak dan nyaman bagi mereka yang membutuhkan. Yang tidak sekadar memberikan nasi bungkus di jalanan. Yang tidak hanya ada orang-orang yang mengantri makanan gratis di warung lalu pulang setelahnya.  Tapi ada cerita-cerita kebaikan yang menyertainya.

Semoga kedai sedekah akan selalu ada ya. Doakan kami ya teman-teman…

Share