Friday, September 25, 2020

SEBAIK-BAIKNYA PEMBALAS KEBAIKAN

 

Teman, pernahkah kau mendapat kebaikan secara tiba-tiba?

Memperoleh kejutan menyenangkan yang tak disangka-sangka

Mendapat pertolongan dari orang asing

Atau mungkin memperoleh kemudahan di saat  sulit

Serta jalan keluar saat kamu pikir sudah tidak ada harapan

 

Orang-orang bilang,

Itu adalah tabungan kebaikan yang semesta kumpulkan

Yang dikembalikan  padamu cepat atau lambat

Mungkin dengan cara yang sama sekali tidak kau duga

Dan dari tangan orang lain yang tidak kau kenal

 

Orang-orang juga bilang,

Itu adalah doa yang dipanjatkan orang-orang tanpa kau ketahui

Doa  ibumu yang tak pernah berhenti dilangitkan

Doa kekasih halalmu yang dengan tulus dia panjatkan

Doa dari orang-orang yang pernah kau bahagiakan

 

Bukankah Tuhan memang telah menjanjikan?

Kebaikan sekecil apapun akan tetap diperhitungkan

Tidak kurang dan tidak lebih akan tetap dibayar lunas

Dengan cara yang hanya Dia yang tahu

Karena hanya Dia, sebaik-baiknya pembalas.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day19

SI KAPTEN MARVEL

 


Beberapa hari yang lalu, aku dipaksanya menceritakan sesuatu tentang dia. Males banget nggak sih? Dia yang bisa nulis, aku yang disuruh cerita. Katanya untuk tugas One Day One Post atau apalah itu. Laah, kenapa nggak nulis sendiri cobaa??

Tapi karena dia ribut terus, menggangguku setiap hari, baiklah! Akan kuceritakan yang kutahu tentangnya di sini. Eeeh, dia memang nyebelin, masih saja pesan kalau ceritanya yang baik-baik saja. Yaelaah…berisik amat!. Tapi siapapun yang membaca tulisan ini, awas saja kalau protes tentang ejaan atau alur atau semacamnya. Aku sudah cukup punya satu teman yang selalu ribut soal di dipisah atau di disambung setiap hari. Ini tulisanku, Jadi baca saja oke? Nggak usah protes.

Tapi sebentaar…kalau aku harus cerita tentangnya, akan lumayan susah juga. Dia bukan orang yang terbuka. Sejak kecil  dia itu pendiam sekali. Makanya kami cocok, dia akan betah mendengarku bercerita sepanjang hari. Yaah..meskipun ternyata dia ketahuan tidur sih saat aku cerita. Tapi dia selalu sabar mendengarku kok.

Oke oke, aku mulai. Namanya Lilik. Aku mengenalnya sejak kecil. Bisa dibilang kami tumbuh bersama. Tahu nggak apa panggilan kami untuknya? Kapten Marvel. Bagi kami, teman-temannya,  dia adalah seorang pejuang.

Sejak kecil Lilik memang suka menulis. Sangat jauh berbeda denganku. Dialah yang kuandalkan setiap ada tugas mengarang. Aku tidak perlu repot-repot berpikir keras untuk membuat karangan tugas bahasa Indonesia. Eh tapii, Lilik juga nyebelin banget sih. Pernah nih ya, waktu kelas 5 SD, dia membuat satu kelas dihukum karena cuma dia yang bisa mengerjakan tugas membuat puisi dalam waktu tiga puluh puluh menit. Samaan tidak usah mengerjakan kenapa? Lagian susah bener itu tugasnya. Semua temannya dihukum sedangkan dia tidak kan nyebelin banget. Siangnya, ada seseorang yang membuat ban sepedanya bocor, tahu rasa dia pulang sekolah jalan kaki! hahaha

Aku juga yang memaksanya mengirimkan tulisannya ke majalah dan koran.  Beberapa kali dimuat di majalah anak-anak. Kalau tidak salah, waktu itu honornya seratus ribu dan harus diambil di kantor pos. Aku mendapat traktiran bakso gratis setiap kali tulisannya dimuat. Makanya waktu dia memberiku lima buah buku antologi yang berisi tulisan-tulisannnya, aku tidak terkejut. Tulisan-tulisan sederhananya  bisa menyentuh hati banyak orang.  Tapi ya itu tadi, dia nyebelin kalau sudah punya ide tulisan. Bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Susah diajak main.

Lilik seorang pekerja keras. Dia biayai kuliahnya sendiri dengan bekerja sambilan semenjak lulus SMA. Dia orang yang gigih jika menginginkan sesuatu. Pernah suatu ketika kami ingin membeli suatu barang yang harganya mahal, dia rela tidak jajan sebulan. Kalau aku, mana kuat seperti itu.

Kami berpisah sejak lulus kuliah. Aku harus pindah ke kota lain. Tapi karena lingkaran pertemanannya gitu-gitu aja, kami tetap berhubungan baik. Meskipun kemudian baru kutahu, sepuluh tahun belakangan ini, ternyata hidupnya tidak sebaik seperti yang selalu dia katakan setiap aku menanyakan kabarnya.

Dia mengalami saat-saat yang berat. Saat orang yang seharusnya menjaga dan melindunginya malah menyakitinya sedemikian rupa. Berbagai macam makian, hujatan, dan ancaman  pernah dia dapatkan setiap harinya. Dia hampir menyerah saat itu. Bahkan ceritanya belakakangan ini, dia sampai mengunjungi psikolog di rumah sakit sendirian agar bisa mendapatkan bantuan. Tidak ada keluarga ataupun sahabatnya yang tahu saat itu. Lilik ini, tidak pernah mau merepotkan orang. Tidak ingin menyusahkan orang-orang yang disayanginya.  Ah, aku sungguh menyesal tidak ada di sampingnya ketika dia harus melewati saat-saat itu.

Kami bertemu lagi  tiga tahun lalu. Bodohnya aku, pertemuan- pertemuan kami melulu hanya tentang ceritaku. Segala remeh temeh masalahku. Yang galau antara membeli rumah atau membuka toko, yang bingung memutuskan antara mau masak salmon atau lele goreng saus mayonais, dan semacamnya. Sampai akhirnya dia cerita semuanya. Duh, aku malu sekali telah mebebaninya dengan masalah tidak pentingku, padahal dia punya masalah yang jauuuh lebih besar

Tunggu-tunggu! Tidak jadi masalah  yang terlalu besar baginya ternyata. Aku salah. Lilik menceritakannya memang sambil menangis. Kadang kala dia terisak, berhenti, lalu kembali bercerita. Tapi bukan lemah. Dialah Kapten Marvel. Dia bisa melewatinya dan semakin kuat setiap harinya.

Dia masih seorang pendengar yang baik bagi teman-temannya, selalu ada saat sahabat-sahabatnya membutuhkannya. Dan yang tidak habis pikir, dia masih suka saja direpotkan dengan urusan orang-orang asing. Tiba-tiba suatu ketika bilang padaku bahwa dia sedang berada di Yogyakarta untuk mengajar anak-anak SD selama satu hari, padahal sebelumnya dia cerita sedang pusing karena harus mengawal audit di kantornya. Lhah, kenapa malah main ke Yogyakarta cobaa?? Atau sering sekali dia itu bikin acara sosial, menggalang dana, pergi ke rumah orang-orang jompo, atau kegiatan lain yang aku sampai lupa saking banyaknya. Menjadi relawan di komunitas sosial, memberi les gratis ke anak-anak yatim, selalu siap membantu kapanpun dibutuhkan. Ada saja energinya untuk melakukan semua itu.

“Ayo ikut aku!” Lilik mengajakku ke sebuah taman  saat dia selesai bercerita padaku sambil menangis. Di sana, ada belasan anak-anak yang berteriak kegirangan menyambutnya. Tiba-tiba sama dia menjelma menjadi si Kapten Marvel kesayangan anak-anak. Sebentar saja dia sudah larut dalam keriuhan itu. Membacakan buku, membuat kerajinan tangan, tertawa dan gembira bersama mereka. Aku takjub melihat begitu cepatnya Lilik menghapus air matanya  menjadi tawa. 

Tapi satu jam kemudian, setelah semua anak pulang dan dia mulai merapikan barang-barang, aku melihatnya. Sisi lain temanku ini. Lilik menghela napas panjang sesekali. Aku terpaku. Aku  lihat ada kesedihan di sana. Ada luka yang belum sembuh. Ada kehilangan yang masih menyakitkannya. Tapi dia sempurna menutupinya di depan semua orang.

Aku memeluknya dan kami kemudian tertawa lagi. Setidaknya kini aku tahu Lilik akan baik-baik saja. Dia bersama orang-orang baik di sekelilingnya, Yang memberinya kesempatan untuk menemukan bahagianya. Kebahagiaannya adalah ketika dia bisa berbagi dengan banyak orang. Apa yang dia dapat? Bukankah itu hanya menghabiskan waktu, uang dan tenaganya? Dia sudah kelelahan sepanjang hari dan masih berbuat ini itu untuk orang lain. Tapi satu jawababnya yang membuatku terdiam lama  Aku ingin jika aku meninggal nanti, setidaknya ada satu orang yang bersaksi bahwa aku orang baik. Jadi biarlah aku  belajar jadi orang baik terus setiap harinya”.

 Catatan : Semacam fiksi mini.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPChallenge3

Thursday, September 24, 2020

TENTANG SEBUAH KOMITMEN

 


Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengemukakan definisi relawan adalah bentuk tidak baku dari kata sukarelawan. Sukarelawan atau relawan berarti orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena terpaksa atau diwajibkan).

Sebagai founder sebuah komunitas sosial, aku sadar bahwa keberadaan relawan sangat penting bagi kami. Relawanlah yang sebenarnya menjadi tulang punggung  keberlangsungan komunitas. Di Yuk Main misalnya, komunitas kami.  Relawan yang melaksanakan hampir seluruh kegiatan. Mulai dari persiapan pelaksanaan, sampai kegiatan setelah acara inti. Semua dilakukan oleh para relawan karena mereka semua tidak dibayar.

Tapi yang menjadi masalah adalah, ketika banyaknya relawan tidak sebanding dengan kinerja yang diharapkan. Ketika sebuah relawan seperti dijadikan alasan untuk membantu seadanya, bukan sepenuhnya. Ketika tugas relawan dijadikan urutan kesekian dalam sebuah prioritas.

Sering kutemui, relawan yang mendadak bilang tidak bisa melanjutkan project karena katanya ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan. Banyak kujumpai, relawan yang tidak pernah menyampaikan pendapat saat diajak berdiskusi. Dan tidak sedikit relawan, yang menghilang begitu saja ketika dibutuhkan tenaga, pikiran, dan waktunya, Pernahkah dia memikirkan imbasnya bagi orang lain? Bahwa ada orang-orang yang kesulitan harus mengerjakan tugas yang seharusnya dia selesaikan dengan tuntas.

Mereka sepertinya lupa pertama kalinya mereka mengajukan diri menjadi relawan. Ingin berkontribusi aktif, ingin menambah pengalaman, ingin membantu orang lain, ingin belajar hal baru, dan lain sebagainya. Tapi sebelum semuanya diberikan atau didapatkan, sudah banyak yang tidak sabar dan menghilang.

Apakah dengan menjadi relawan, maka komitmen tidak lagi diperlukan? Tapi bukannya justru dengan menjadi relawanlah  seseorang  bisa menunjukkan kualitasnya? Bahwa dengan tidak dibayar dan ditugaskan, seorang relawan mestinya menunjukkan bahwa bahwa dia bisa diandalkan. Dan tidak ada yang lebih bisa membuktikan soal diandalkan itu selain menjadi relawan. Saat kamu tidak dibayar tapi tetap berkomitmen melakukannya.

Saat memutuskan menjadi seorang relawan, dalam bidang apapun, sebenarnya saat itu jugalah dia membuat komitmen. Komitmen adalah perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu. Mungkin memang tidak ada perjanjian tertulis, tapi komitmen seharusnya tetap ada dan mengikat. Yang meskipun sering tidak dianggap penting, tapi kelak pasti akan ditanya pertanggung jawabannya..

Untuk semua relawan.  Di komunitas, di lokasi bencana, di daerah peperangan, di tempat manapun. Yang sampai sekarang masih melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati, terima kasih telah memberi pelajaran lain tentang sebuah komitmen. Pelajaran bahwa relawanpun bisa memegang teguh sebuah komitmen. Apapun bentuk komitmennya, apapun tujuannya, siapapun orangnya. Aku yakin, semesta akan membalas sekecil apapun usaha dalam melaksanakan komitmen.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day18

Wednesday, September 23, 2020

BEKAL SEHAT DAN RAPI DENGAN COSMO LADY TUPPERWARE

 


Rabu, saatnya aku menulis tentang cerita sehatku. Semoga setiap minggu bisa rutin  membagi cerita pengalamanku dalam memulai dan membiasakan hidup yang lebih sehat. Meskipun  baru belajar, masih berusaha konsisten, tapi tulisan ini juga bisa sebagai pengingatku agar tidak menyerah di tengah usahaku ini.

Kali ini aku akan bercerita tentang bekal yang kubawa hampir setiap hari ketika berangkat kerja. Selain karena di tempat kerja yang baru masih kesulitan menemukan tempat jajan yang cocok, aku juga mulai menjaga makanku untuk mengimbangi olahragaku setiap hari.

Sekarang aku membiasakan membawa bekal untuk kumakan waktu istirahat siang. Karena dari rumah sudah biasa sarapan green smoothies, maka aku hanya membawa bekal untuk makan siang dan cemilan. Tentu saja kuusahakan yang sehat dan cukup mengenyangkan sehinga aku tudak lagi tergoda jajan di jalan.

Bekal yang kubawa harusnya yang simpel dan mudah dimasak. Aku sangat menghindari bekal yang merepotkan sehingga aku tidak akan konsisten membuatnya.  Biasanya aku membawa bekal buah, karbohidrat, protein, dan sayuran. Nasi adalah bekal yang kuhindari karena aku mulai berusaha  mengurangi nasi dan beralih ke sumber karbohidrat lain seperti ubi, kentang, dan singkong. 

 


Urusan perbekalan, ada yang membuat aku makin bersemangat membawa bekal ke tempat kerja. Yaitu adanya tas bekal yang cantik dan menggemaskan seperti Cosmo Lady Set dari Tupperware ini.  Dalam satu setnya terdapat:

1 buah Small Summer Fun  : 600 ml

2  buah petite square : 110 ml

1 buah Eco Bottle square : 500 ml

Tas dan sendok garpu

Warnanya yang cerah ceria menambah semangat dalam membawa dan memakan bekalnya. Adanya tas juga memudahkanku membawa bekal tanpa harus repot memasukkan kotak makan ke ransel atau mencari tas lain untuk menyimpan kotak dan perlengkapannya. Cosmo Lady ini bagiku sudah sangat cukup untuk tempat bekalku seharian.


Ini salah satu contoh menu bekalku menggunakan Cosmo Lady. Dalam small summer fun aku mengisinya kentang kukus dan sayuran. Ada brokoli dan wortel kukus, serta kol mentah. Petite squarenya aku isi dengan protein yaitu tempe kukus. Petite square yang satu kuisi dengan potongan buah. Kenyangkah dengan bekal segitu? Kenyang kok. Dan InsyaAllah gizinya lengkap. Ada karbohidrat, protein, serat vitamin dan mineral.

Yang lebih penting bagiku sebenarnya, bagaimana caranya agar bekal yang kusiapkan tidak merepotkan. Pagi-pagi sudah terlalu repot dengan urusan rumah dan keluarga, jadi menyiapkan bekal untuk diri sendiri juga tidak boleh yang susah, Seperti bekal tadi, ada banyak bahan yang bisa dimasak sekaligus dengan cara dikukus. Lebih sehat dan lebih hemat waktu tentunya.

Dan memang, membawa bekal di wadah seperti ini menyenangkan karena lebih rapi dan tidak berantakan. Dulu, sebelum punya kotak bekal set dengan tas seperti ini, aku suka memasukkan kotak bekalku di ransel. Jadinya makin membuat ransel penuh dan berat. Kalau menggunakan Cosmo Lady ini, tinggal ku taruh di cantelan motor dan siap berangkat.  Hati senang, perut kenyang, dan uang jajan aman hehehe

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day17

Tuesday, September 22, 2020

KAPAN TERAKHIR MEMBACA BUKU DI TEMPAT UMUM?

 


Aku termasuk orang yang sering sekali mendapatkan kesempatan menunggu. Mungkin karena terbiasa tepat waktu, sedangkan yang lain seringnya tidak  sehingga aku yang harus sering menunggu setiap ada janjian pertemuan. Termasuk juga menunggu antrian di bank atau tempat pelayanan publik, yang seringnya  waktu menunggunya tidak sebentar.

Apa yang biasanya kulakukan saat sedang menunggu? Main gawai.  Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting tapi kemudian jadi membuat lupa waktu.  Scroll feed instagram, membaca satu demi satu chat di grup WhatsApp, atau hanya  melihat status dan story orang lain.

Kemarin, saat sedang mengantri di sebuah bank, aku melihat seorang kakek yang menunggu sambil membaca buku. Beliau berada di depanku jadi aku tidak terlalu melihat buku apa yang dibacanya. Tapi melihatnya asyik membaca buku tiba-tiba saja membuat hatiku hangat.

Aku lupa kapan terakhir kali aku membawa buku di dalam tasku. Sejak aku sering mendapati bukuku rusak, terlipat atau kena coretan spidol karena kutaruh di tas bersama perlengkapan kerjaku yang lain. Aku kemana-mana memang memakai ransel untuk membawa laptop, buku agenda, sampai perlengkapan tulis. Sering sedih ketika mendapati buku bacaanku terlipat parah  setelah kukeluarkan dari ransel.

Alasan lainnya adalah sejak punya aplikasi ipusnas dan iJak, aku mulai jarang membaca buku fisik. Tapi ternyata kalau di tempat umum aku juga jarang membaca buku digital. Lagi-lagi, sosial media yang kujadikan teman menungguku. Dulu, aku bahkan merasa malu kalau membaca buku di tempat umum. Beberapa kali kudapati orang-orang memandangku aneh ketika melihatku membaca novel di bank, jadi lama-lama aku tidak lagi membawa buku di tas. Aku merasa, aku dianggap pamer karena membaca buku di tempat umum.

Tapi kakek yang kulihat di bank, beliau tidak malu. Bahkan mungkin tidak ada orang yang benar-benar peduli apa yang beliau lakukan. Beliau hanya menikmati membaca bukunya. Toh, bukankah, jauh lebih baik pamer baca buku daripada pamer main game? Siapa tahu ada satu orang asing yang diam-diam terinspirasi dan kemudian jadi memutuskan untuk membaca buku juga ketika menunggu. Sepertiku.

Pagi ini, aku harus ke bank lagi. Kali ini aku membawa novel yang sudah lama ingin kuselesaikan tapi tak kunjung kubaca lagi. Untuk menghindari bukuku rusak dan terlipat kumasukkan tas, aku menggunakan booksleeve. Jadi buku di dalamnya tetap aman karena tidak bergesekan dengan  barang lain di ransel. Buku aman, hati tenang.

Membaca buku di tempat umum ternyata menyenangkan juga. Tidak usah peduli sama orang lain. Fokus membaca saja. Eh tapi sesekali pastikan nomor antriannya sudah sampai mana. Biar tidak kelewat karena keasyikan membaca hahahha

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day16

Monday, September 21, 2020

DIKEMANAKAN PAKAIAN LAYAK PAKAINYA?

 


Setelah dua minggu lalu aku menulis tentang decluttering di sini, hari ini aku akan bercerita kukemanakan pakaian dan kerudungku setelah kukeluarkan dari lemari. Tapi sebelumnya,  aku selalu memastikan dulu pakaian yang akan kuberikan ke orang lain memang masih sangat layak pakai. Aku bayangkan diriku sendiri yang menerima pakaian dari orang lain dan aku pasti akan senang jika kondisi pakaiannya memang masih bagus. Itulah sebabnya, setelah kukeluarkan dari lemari, aku bagi lagi pakaianku menjadi dua kategori yaitu :

1.    Pakaian yang rusak . Kancing yang lepas, noda besar yang tidak bisa hilang, sobek, dan yang memang aku sendiri tidak mau memakaianya karena kondisi fisik pakaian yang tidak bagus, maka tidak boleh dikasihkan ke orang lain. Biasanya ini kubawa ke tukang jahit dan kujadikan masker, sapu tangan, lap wastafel, atau serbet di dapur. Kalau terpaksa dibuang, dibuang yang benar.

2.    Pakaian yang masih bagus. Biasanya pakaian kategori ini tidak terpakai  karena kebesaran, kekecilan, atau tidak ingin kupakai lagi karena alasan khusus. Pakaian inilah yang disiapkan untuk diberikan ke orang lain. Biasanya aku laundry  dulu biar bersih dan wangi.

Kemudian, ke mana saja pakaian layak pakaiku kuberikan? berdasarkan  pengalamanku, inilah beberapa tempat yang biasanya kujadikan sasaran:

1.     Ke Kampung. 

     Aku mempunyai kampung halaman di desa yang jauh dari kota. Orang-orang disana suka sekali kalau diberikan baju karena mereka jarang sekali mempunyai baju baru.  Beberapa kali juga ada teman yang bersedia menyaliurkan baju layak pakaiku ke kampung halamannya. Karena memang dibutuhkan dan banyak yang senang menerima.

2.     Panti Asuhan.

Kemarin sebagian besar kerudungku kukirim ke Panti Asuhan. Kebetulan aku punya seorang teman di Jawa Timur yang rumahnya sangat dekat dengan panti dan mengabarkan kalau anak-anak butuh tambahan kerudung dan pakaian .

3.      Dinas Sosial.

Suatu hari aku mendapat kabar, kalau Dinas Sosial menerima bantuan pakaian layak pakai agar bisa disalurkan ke orang-orang yang membutuhkan, misalnya di rumah singgah yang dikelola Dinas Sosial.  Kapan-kapan aku akan menulis lagi tentang ini untuk lebih jelasnya karena ketika hari ini tadi aku ke sana, tidak sempat berbincang lama dengan pengelolanya. Tunggu cerita berikutnya yaa..

4.     Komunitas Sosial.

Yang aku tahu ada beberapa komunitas yang menerima donasi pakaian layak pakai. Pakaian ini ada yang disalurkan kepada penerima langsung atau ada juga yang dijual lagi agar bisa mendapatkan uang untuk didonasikan. Beberapa kali aku juga pernah menyerahkan pakaianku  di komunitas sosial seperti ini.

 

Sebelum memberikan pakaian, aku selalu memastikan dulu bahwa penerima memang butuh dan mau. Terkadang ada orang yang tidak mau menerima barang bekas pakai orang lain, jadi penting sekali bagiku untuk menanyakan dulu. Sayang kalau niat awalku memberikan pakaian yang sudah tidak bisa kupakai agar bisa dimanfaatkan orang lain jadi gagal kalau ternyata pakaiannya malah hanya dibiarkan atau ditumpuk saja.

Paling senang kalau ada cerita dari kampung kalau pakaian yang kuberi, benar-benar dirawat oleh mereka. Mereka memakainya di acara spesial seperti kondangan, pengajian, atau bahkan bepergian. Dengan begini, aku jadi lega dan bahagia. Kalau teman-teman, biasanya ke mana menyalurkan pakaian layak pakai yang dipunyai?

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#Day15

Share