Friday, November 6, 2020

BEKERJA SELAMA PANDEMI, BUTUH PENYESUAIAN DAN KESABARAN

 


Pandemi Covid 19 sudah berlangsung hampir satu tahun lamanya.  Karyawan, pengusaha, pedagang, pelajar, ibu rumah tangga, dan semua kalanganpun terkena dampaknya. Besar kecilnya dampak pandemi ini tentu sangat berbeda di masing-masing orang. Tapi di sini, aku akan menceritakan dampak pandemi bagiku. Bagi pekerjaanku.

Sebelumnya aku tinggal dan bekerja di kota Kudus. Aku adalah seorang fasilitator pemberdayaan masyarakat program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh). Karena pekerjaanku di bidang pemberdayaan masyarakat, mau tidak mau, aku memang harus sering  bekerja di  lapangan, mengagendakan dan mengajak warga rapat serta berdiskusi, membahas dan melaksanakan  pekerjaan teknis, dan hal-hal lain yang membutuhkan bertemu dengan orang lain.

Bulan april 2020 kemarin, aku dipindah tugaskan di kota Pati. Pada saat itu Pati dan Kudus sudah menerapkan protokol kesehatan secara ketat karena mulai banyak terjadi kasus postif COVID-19. Bagaimana aku bekerja saat pandemi melanda?

Apalagi setelah ada salah satu anggota Komisi IX DPR Imam Suroso yang meninggal karena terjangkit COVID-19 di bulan Maret 2020. Almarhum sempat melakukan edukasi dan bakti sosial terkait COVID pada masyarakat di Pasar Puri, kecamatan Pati. Kecamatan yang menjadi wilayah dampinganku. Setelahnya beberapa tempat di Kota Pati ditutup, termasuk masjid dan pertokoan. Praktis bulan april itu aku belum bisa ke Pati karena kondisi di sana yang masih mengkhawatirkan.

Di internal kantorpun sama. Banyak pekerjaan yang  diselesaikan dari rumah masing-masing.  Kami mengadakan rapat koordinasi secara daring untuk membahas progress pekerjaan, kendala di lapangan, dan rencana kerja ke depan. Sementara itu, aku harus sudah mulai berkenalan dengan orang-orang di lokasi dampingan.

Bagaimana caraku memulai bekerja di tempat baru bahkan dengan orang-orang dan lokasi yang sama sekali tidak pernah kukenal dan kudatangi sebelumnya? Aku menggunakan  WhatsApp dan telepon sebagai media perkenalan dan komunikasi. Memang tidak maksimal, dan aku  juga merasa tidak nyaman karena sungguh tidak sopan berkenalan hanya melalui telepon, terutama orang-orang yang berusia jauh di atasku.  Tapi itu adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan.

Bulan Juni 2020, ketika kondisi sudah agak membaik, aku baru memulai ke lokasi dampingan. Inipun dilakukan secara bertahap. Awalnya, aku kesulitan dalam menjalani proses perkenalan yang berlangsung lambat ini. Kalau di kondisi normal, aku harus mengunjungi balai desa/kelurahan untuk memperkenalkan diri, kemudian mengagendakan rapat dengan kelompok warga, maka saat  itu tidak bisa dilakukan. Jadi aku harus mendatangi  satu per satu rumah tokoh masyarakat, anggota kelompok peduli, dan perwakilan komunitas warga yang berhubungan dengan pekerjaanku. Butuh banyak penyesuaian dan kesabaran menjalaninya.

Sampai sekarangpun, di awal bulan Nopember 2020, aku masih belum berani mengagendakan pertemuan warga dalam jumlah besar. Rapat terakhir yang terlaksana adalah di akhir bulan Oktober kemarin dengan  mengundang  10 orang warga pada saat agenda pemetaan wilayah. Kami terpaksa mengundang warga karena sangat tidak memungkinkan bertanya tentang batas wilayah RT atau RW melalui telepon. Itupun harus di aula balai desa yang luas, tetap menjaga jarak, dan memakai masker.

Bagaimana dengan warga masyarakat sendiri? Yang kuperhatikan orang-orang yang kutemui selama ini, mereka cukup tertib melaksanakan protokol kesehatan. Sejak awal pertemuan denganku, masker selalu dipakai. Bahkan ada satu orang yang sampai sekarang aku belum pernah melihat wajahnya secara langsung karena beliau selalu memakai masker setiap bertemu denganku.  Di balai desa atau balai kelurahanpun, sudah tersedia semua cuci tangan dan sabun. Beberapa malah sudah ada fasilitas thermo gun. Yang kuperhatikan, selama bekerjapun mereka masih memakai masker dan menjaga jarak.

Sekarang, apakah suasana sudah kembali normal? Masih terlalu dini untuk menjawabnya. Dari data perkembangan kasus per hari dalam 60 hari terakhir di Kabupaten Pati, grafiknya masih tinggi. Yang meninggal postif 84 orang dan sedangkan yang suspek dirawat 53 orang. Apalagi dua minggu yang lalu, salah satu tokoh masyarakat di salah satu desa dampinganku meninggal dunia karena positif COVID-19. Hal seperti ini mengakibatkan pekerjaanku juga akan tertunda selama beberapa waktu.

Pandemi ini, memang sangat berpengaruh bagiku,  yang sering bekerja di lapangan dan bertemu dengan banyak orang. Membutuhkan banyak penyesuaian dan kesabaran. Harapanku tentu saja agar pandemi ini segera berlalu. Tapi sebelum pandeminya benar-benar berlalu, tetap jaga kesehatan dan protokol kesehatan ya. Kita saling menjaga bersama-sama.

 

Referensi : https://covid19.patikab.go.id/v3/

 

#OneDayOnePost

#ODOP

#TantanganPekan9

#ODOPBatch8

#Day61

No comments:

Post a Comment

Share