Saturday, September 12, 2020

DECLUTTERING, MEMAKNAI KATA CUKUP

 

Sudah lama mendengar istilah decluterring, tapi baru dua bulan ini aku mulai benar-benar belajar menerapkannya. Decluttering berasal dari bahasa Inggris yang berarti merapikan. Merapikan ini maksudnya adalah dengan cara mengurangi barang-barang yang kita punya tapi sebenarnya tidak terpakai lagi. Decluttering bisa diterapkan untuk banyak hal. Buku, tas, sepatu, pakaian, dan lain-lain.

September ini, aku dan teman-teman di grup Sahabat Riyadhoh mempunya satu proyek kebaikan yaitu decluttering  pakaian dengan cara mengurangi isi lemari. Berawal dari curhatan dan kesadaran bahwa ternyata di lemari kami, banyak sekali pakaian yang jarang dipakai. Bahkan ada yang tidak pernah dipakai. Tidak benar kan, membeli pakaian tapi akhirnya hanya ditumpuk  saja di lemari?

Satu hal lagi yang membuatku sangat  ingin segera mengurangi isi lemari adalah kejadian yang kualami beberapa waktu lalu. Tentang seorang nenek yang kukenal karena pernah jadi penerima bantuan dari Yatim Mandiri. Nenek ini tinggal bertiga dengan dua cucunya yang yatim piatu. Pekerjaannya mengumpulkan barang bekas untuk dijual ke pengepul. Suatu hari, nenek ini meminta pakaian baru padaku. Katanya pakaiannya sudah jelek semua dan minta kubelikan satu buah gamis yang bagus.

Setiap kali saat aku datang menjenguk, beliau selalu meminta hal yang sama. Satu gamis bagus untuk lebaran. Beberapa hari sebelum lebaran, akhirnya kubawakan gamis baru untuk beliau. Waktu aku datang setelah lebaran, beliau semangat sekali cerita kalau gamis dariku sudah dipakainya.

Tak lama setelahnya, aku menerima  kabar kalau nenek itu meninggal dunia karena serangan jantung. Saat aku ke  sana dan membantu para tetangga membereskan rumah, yang membuatku sangat terkejut adalah tumpukan  pakaian di lemarinya.  Banyak gamis, rok, baju yang beberapa  masih baru, bahkan ada yang masih dibungkus plastik lengkap dengan labelnya di sana. Belum sempat beliau pakai.  Lemas sekali aku melihatnya. Serasa tertampar karena aku jadi teringat isi lemariku sendiri.

Baju, gamis dan kerudungku juga banyak. Dulu, setiap punya baju atau gamis baru, heboh mencari kerudung dengan warna yang senada. Punya rok, sibuk mencari atasan yang cocok dipasangkan dengannya. Padahal ternyata hanya sekali dua kali dipakai. Padahal  kalau kita meninggal nanti, semua itu tidak ada artinya. Pakaian-pakaian itu, tidak akan berguna lagi untukku. Untuk apa memperbanyak pakaian? Untuk dipamerkan kepada manusia? Agar dipuji? Atau memang benar-benar kita butuhkan? Kalau benar-benar kita butuhkan, bukankah tidak seharusnya pakaian itu hanya jadi tumpukan  di lemari yang jarang bahkan tidak pernah dipakai?

Dari situlah aku mulai berpikir untuk mengurangi isi lemari, belajar tentang decluterring, dan terutama belajar mengerti tentang kebutuhan diriku sendiri.  Tujuanku adalah menyederhanakan pakaian yang kupakai agar semua pakaian yang kumiliki bisa kupakai secara teratur. Otomatis hal ini akan mengakibatkan banyak pakaian yang harus dikeluarkan karena tidak memenuhi kriteria pakaian yang bisa kupakai secara teratur dalam jangka pendek. Aku kemudian membagi pakaianku menjadi beberapa kategori .


1.   Baju Kerja

Karena tidak memakai seragam ketika bekerja, baju kerja ini yang kusisakan paling banyak untuk tetap di lemari. Baju kerja ini adalah kemeja yang sederhana agar mudah kupasangakn dengan bawahan apapun. Pertanyaan selanjutnya, berapa buah kemeja yang harus kusimpan? Akhirnya kuputuskan untuk menyimpan kemeja untuk dua minggu, yaitu 12 kemeja (untuk 6 hari kerja setiap minggunya). Mungkin bagi orang lain masih kebanyakan, tapi karena terkadang aku ada rapat di malam hari juga yang mengharuskanku memakai baju kerja lagi, jadi memang kulebihkan kemejanya.


2.    Rok

Ini juga PR banget. Punya banyak rok yang numpuk di lemari. Kriteria rok yang kusimpan adalah yang selama ini paling sering kupakai dan berwarna netral. Rok sebenarnya bisa dua kali pakai, jadi aku hanya menyimpan yang benar-benar akan kupakai saja. Yang kusimpan adalah rok yang bisa fleksibel kupakai kerja dan pergi ke acara lain. Aku menyimpan warna-warna netral yang bisa dipasangkan dengan kemeja warna apapun yaitu hitam, navy,  abu-abu, dan coklat. Lainnya, kukeluarkan dari lemari. 


3.    Kaos Panjang

Kaos lengan panjang kupakai saat menghadiri acara santai, bertemu sama teman-teman dan untuk berjalan kaki di pagi hari. T Shirt lengan panjang kusimpan 7 buah (untuk jatah seminggu) dan 4 buah untuk berjalan kaki di pagi hari. 

  

4.   Gamis

Awalnya aku punya gamis banyak. Kebanyakan tidak sering kupakai. Jadi banyak yang harus dikeluarkan. Kriterianya apa? Yang nyaman dan sering kupakai itulah yang kusimpan.  Karena syarat utamaku setiap pakaian harus mempunyai jatah pemakaian yang sama dengan jenis pakaian yang lain, gamis yang biasanya hanya kupakai kalau pergi ke walimahan, kajian atau ada acara komunitas, maka mulai kucoba untuk membiasakan memakai gamis ketika akan melakukan ibadah sholat. Setelah tersentil dengan sebuah kalimat “Pergi ke resepsi yang ketemu manusia  saja pakai baju terbaik, ini pergi sholat yang bertemu Maha Segalanya mosok pakai pakaian seadanya?” Jadi aku mulai mebiasakan menyiapkan satu gamis untuk kupakai sholat malam dan sholat lain di rumah setiap hari. Memang agak merepotkan setiap sholat harus ganti baju. Tapi menyenangkan bisa nunjukin ke Allah kalau kita sudah bersiap bertemu dengan-Nya dengan pakaian yang terbaik. 

 

5.   Kaos pendek

Ini juga banyak yang kukeluarkan dari lemari. Aku hanya menyisakan tiga kaos lengan pendek yang kugunakan untuk olahraga senam di sore hari. Jadi setelah olahraga, aku akan mencucinya langsung karena pasti basah oleh keringat dan bisa dipakai lagi bergantian setelah kering.


6.   Piyama

Sebelumnya aku jarang memakai baju khusus untuk tidur. Makanya dulu aku punya banyak kaos pendek untuk kupakai di rumah . Tapi sekarang aku mencoba menggunakan piyama panjang atau dress panjang agar bisa digunakan juga ketika sedang membaca Al Quran di rumah sebelum tidur.  Piyama ini aku punya 4 buah untuk ganti-ganti setiap hari.

7.   Kerudung

Kebiasaanku dulu repot sekali menyesuaikan baju dan jilbab yang harus serasi semua.  Kalau tidak cocok sedikit aja, aku langsung memutuskan untuk beli jilbab atau kerudung baru. Naaah, ini juga target pengurangan paling banyak. Aku menyisakan kerudung segi empat dan pashmina warna-warna netral. Orang-orang yang bertemu denganku tidak akan protes kok kalau aku pakai  baju warna hijau dengan jilbab warna hitam hahaha…

 

Hasil decluterring lemariku minggu kemarin adalah total ada 10 kg pakaian dan 12 kg  kerudung. Banyak sekali ternyata. Bagaimana rasanya setelahnya? Melihat lemari jauh lebih lega itu ternyata membuat hati bahagia. Tinggal sekarang  berjanji  pada diri sendiri untuk tidak membeli pakaian atau kerudung baru sampai akhir tahun nanti. Syukur-syukur  sampai satu tahun ke depan. Yang di lemari sudah cukup untukku.

Decluttering memang belajar memaknai kata cukup untuk sendiri. Dan ini bisa sangat berbeda di tiap orang. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Yang jelas, dengan memaknai cukup untuk diri sendiri, kita jadi bisa lebih menghargai apa yang dipunya. Pakai yang diperlukan. Simpan yang dibutuhkan. 

Selanjutnya, aku akan cerita ke mana saja pakaian-pakaianku  kudonasikan. Tunggu postinganku minggu depan yaa….

 

 #OneOdayOnePost

#ODOP

#Day6

No comments:

Post a Comment

Share